Jawa Pos Radar Madiun - Jakarta bukan sekadar pusat pemerintahan dan bisnis.
Di balik gedung pencakar langit dan hiruk-pikuk metropolitan, tersimpan jejak panjang sejarah Islam yang terekam dalam bangunan masjid-masjid berusia ratusan tahun.
Sejak era Batavia hingga menjadi Ibu Kota Indonesia, Jakarta berkembang sebagai kota pelabuhan penting sekaligus pusat penyebaran Islam.
Tak heran, banyak masjid bersejarah yang kini menjadi destinasi wisata religi favorit, tempat masyarakat beribadah sekaligus belajar tentang warisan budaya.
Bagi Anda yang ingin wisata religi sambil menelusuri sejarah, berikut 10 masjid bersejarah di Jakarta yang layak masuk daftar kunjungan.
1. Masjid Istiqlal
Masjid Istiqlal merupakan masjid terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara. Nama “Istiqlal” yang berarti kemerdekaan menjadi simbol rasa syukur atas terbebasnya Indonesia dari penjajahan.
Bangunannya megah dengan fasilitas lengkap, mulai dari perpustakaan, ruang pendidikan, aula pertemuan, hingga poliklinik. Selain menjadi pusat ibadah, Istiqlal rutin menjadi lokasi kegiatan keagamaan berskala nasional.
2. Masjid Perahu
Masjid Perahu dikenal karena keunikannya. Di dalam kompleksnya terdapat monumen perahu yang terinspirasi dari kisah Nabi Nuh.
Desain ventilasi alami membuat suasana di dalam masjid tetap sejuk meski tanpa pendingin ruangan.
Akses masuknya relatif sempit, sehingga lebih nyaman dijangkau dengan berjalan kaki atau kendaraan roda dua.
3. Masjid Jami’ Keramat Luar Batang
Masjid ini termasuk salah satu yang tertua di Jakarta, dibangun pada abad ke-18.
Di bagian belakang masjid terdapat makam Habib Husein Luar Batang, tokoh ulama yang berperan dalam penyebaran Islam di Batavia dan dikenal menentang kolonialisme Belanda. Karena itu, kawasan ini juga menjadi tujuan ziarah yang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah.
4. Masjid Agung Sunda Kelapa
Masjid Agung Sunda Kelapa memiliki desain menyerupai perahu tanpa kubah tradisional.
Arsitekturnya merepresentasikan sejarah Jakarta sebagai kota pelabuhan dan pusat perdagangan. Lokasinya yang strategis juga dikelilingi pusat kuliner, menjadikannya cocok untuk wisata religi sekaligus wisata rasa.
5. Masjid Agung At Tin
Berada di kawasan TMII, Masjid Agung At-Tin dikenal dengan arsitekturnya yang megah dan area yang luas.
Fasilitasnya mencakup taman, plaza, perpustakaan, serta ruang kegiatan keagamaan. Masjid ini aktif menggelar kajian rutin, tilawah, dan berbagai agenda Ramadan yang selalu dipadati jamaah.
6. Masjid Ramlie Musofa
Masjid Ramlie Musofa kerap disebut mirip Taj Mahal karena dominasi warna putih dan kubah besarnya yang elegan.
Arsitekturnya memadukan unsur Timur Tengah dan Tionghoa. Dengan fasilitas modern seperti lift, area parkir luas, serta ruang wudhu terpisah, masjid ini menjadi salah satu destinasi wisata religi favorit di Jakarta Utara.
7. Masjid Cut Meutia
Masjid Cut Meutia memiliki gaya arsitektur kolonial Belanda yang khas.
Bangunan ini awalnya merupakan kantor biro arsitek pada masa kolonial sebelum dialihfungsikan menjadi masjid. Selain nilai sejarahnya, kawasan sekitar masjid juga terkenal dengan kuliner kaki lima yang ramai pada malam hari.
8. Masjid Jami’ Al Ma’mur
Masjid Jami’ Al Ma’mur berdiri sejak abad ke-18 dan menjadi saksi berbagai fase perjuangan bangsa.
Awalnya berupa surau milik pelukis terkenal Raden Saleh sebelum berkembang menjadi masjid. Tokoh nasional Agus Salim juga pernah memanfaatkan tempat ini untuk koordinasi perjuangan.
9. Masjid Al Alam Marunda
Masjid Al Alam Marunda merupakan bangunan cagar budaya yang ditetapkan sejak 1975.
Lokasinya yang berada dekat laut menghadirkan suasana tenang dan berbeda dari masjid-masjid lain di tengah kota. Masjid ini diyakini memiliki kaitan dengan jalur penyebaran Islam melalui pesisir utara Jawa.
10. Masjid Agung Al Azhar
Masjid Agung Al Azhar menjadi pusat dakwah modern di Jakarta Selatan.
Arsitekturnya memadukan gaya Timur Tengah dan ornamen Betawi. Berada dalam kompleks pendidikan Al Azhar, masjid ini dilengkapi fasilitas seperti perpustakaan, ruang kelas, serta klinik yang menunjang aktivitas keagamaan dan pendidikan. (fin)
Editor : AA Arsyadani