Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Si Mbah

N
Penulis: Nur Wachid❯
Si Mbah
Si Mbah

Puisi Si Mbah Karya Nur Wachid


Advertisement

Mbah, kaulah goa teduh tempatku bertapa

Tirakat hidup yang tak ada dalam mata pelajaran di sekolah

Kalau datang angin lalu hujan, Si Mbah bawa payung untukku berlindung

Advertisement

Sebab anakmu, yang ibukku, berpulang lebih dulu

Mbah, kaulah tungku yang tak pernah padam

Katamu, mimpi harus dikejar meski peluh bercucur air mata

Advertisement

Sebab, katamu, pasti selalu ada jalan

Tangan keriputmu yang hangat mengelus pundakku

Kalau musim kemarau kerontang datang, Si Mbah bawa baki air untukku

Kau menimba di sumur belakang, muka airnya pun tak tampak mata

Katamu, setetes air pantang tumpah berceceran

Seperti katamu pada anakmu, yang ibukku, tangan kita tak mampu membuat air

Mbah, saat ragamu membungkuk, kau pun tak ingin tongkat

Saat panggilan sebelum fajar, Si Mbah berjalan menggeranyangi tembok

Sujudmu sampai fajar tiba, lalu menyambut mentari hangat

Katamu, tangan dan kaki sendiri yang mencari hidup, pantang berdiri dalam bayangan

Senja Si Mbah telah tiba, kau pun pulang berjalan sendiri

Lalu pada siapa lagi aku... aku berbakti?

Pinjami aku air matamu Si Mbah, mata air yang tak pernah kering

Aku ingin Si Mbah tersenyum, dalam damai.

Ponorogo, 7 Mei 2025

Advertisement
Editor : Nur Wachid
Sumber : Radar Lawu

Artikel Terkait

Ditendang Malaikat

Ditendang Malaikat

Cerpen Ditendang Malaikat karya Masuki M Astro, redaktur senior LKBN Antara asal Bondowoso, Jawa Timur.

Mahiru, Aida, dan Seni Menyimpan Luka dengan Anggun

Mahiru, Aida, dan Seni Menyimpan Luka dengan Anggun

Esai berjudul Mahiru, Aida, dan Seni Menyimpan Luka dengan Anggun, karya Iffatun Nafisah, pendidik, alumni PBSI FKIP Unej.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer