Jawa Pos Radar Lawu - Kota Los Angeles dilanda kerusuhan besar setelah puluhan migran ditangkap secara paksa oleh aparat federal.
Aksi demonstrasi yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi bentrokan sengit di jalanan.
Pemerintah pusat, melalui perintah Presiden Donald Trump, mengerahkan 2.000 personel Garda Nasional untuk meredam situasi yang semakin memanas.
Kerusuhan ini dipicu oleh penangkapan setidaknya 45 orang migran yang dilakukan tanpa surat perintah.
Petugas federal bertopeng dan bersenjata lengkap dilaporkan menarik para imigran dari tempat kerja mereka, yang memicu amarah komunitas lokal.
Menurut laporan AFP yang dilansir Jawa Pos, aksi massa berlangsung ricuh pada Sabtu (7/6) waktu setempat.
Di media sosial, beredar video yang menunjukkan mobil dibakar, batu dilempar ke arah kendaraan aparat, hingga kembang api diluncurkan ke arah petugas yang mencoba mengamankan kerumunan.
Pusat kericuhan terjadi di fasilitas federal di daerah Paramount.
Sebagai respons, aparat menembakkan granat kejut dan gas air mata untuk membubarkan massa.
Bentrokan pun tidak terhindarkan.
David Huerta, Presiden SEIU California, menjadi salah satu korban luka dan bahkan ikut ditahan saat menyuarakan protes.
Angelica Salas, Direktur Eksekutif Koalisi Hak Imigran Manusiawi, menyebut aksi ini sebagai teror terhadap komunitas imigran.
“Komunitas kami diserang dan diteror. Orang-orang yang ditangkap adalah tulang punggung keluarga mereka,” tegasnya.
Gubernur California Gavin Newsom mengecam keras tindakan represif ini.
Ia menyebut operasi penangkapan imigran itu brutal dan penuh kekacauan.
“Kekacauan yang diciptakan Donald Trump mengikis kepercayaan, memecah belah keluarga, dan melemahkan pekerja dan industri yang menggerakkan ekonomi Amerika,” ujar Newsom.
Wali Kota Los Angeles Karen Bass juga angkat suara dan menyatakan bahwa penggerebekan semacam ini hanya menebar ketakutan.
Namun, Trump merespons dengan langkah militer.
Dalam pernyataan resmi, Gedung Putih mengatakan telah mengerahkan 2.000 Garda Nasional melalui Nota Presiden karena pemimpin lokal dianggap gagal mengendalikan situasi.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut kerusuhan ini sebagai pelanggaran hukum yang tak bisa dibiarkan.
Bahkan, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan lewat akun X-nya bahwa jika situasi makin memburuk, pasukan marinir aktif siap dikerahkan.
Garda Nasional sebelumnya dikerahkan di Los Angeles saat kerusuhan besar menyusul kematian George Floyd pada 2020.
Namun, pengiriman pasukan dalam kasus protes imigrasi tergolong langka, dan kini menjadi sorotan tajam di seluruh Amerika Serikat. (fin)
Editor : AA Arsyadani