Jawa Pos Radar Lawu - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa awal musim kemarau 2025 di sebagian wilayah Indonesia mengalami kemunduran.
Artinya, musim hujan berlangsung lebih lama dari biasanya, sebelum akhirnya memasuki periode kering.
Meski demikian, BMKG menyatakan bahwa musim kemarau tahun ini akan berlangsung normal dan tidak seekstrem tahun 2023 yang dipengaruhi oleh El Nino.
Kemunduran Musim Kemarau di Beberapa Wilayah
Menurut BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia biasanya mulai memasuki musim kemarau pada bulan April hingga Mei.
Namun, pada 2025 ini, ada daerah-daerah yang mengalami pergeseran awal musim kemarau hingga beberapa minggu lebih lambat.
Wilayah-wilayah yang terdampak kemunduran ini di antaranya adalah sebagian Jawa, Sumatra bagian selatan, dan Kalimantan.
Meski kemarau datang lebih lambat, BMKG tetap memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada periode Juni hingga Agustus.
Dampak Kemunduran Musim Kemarau terhadap Iklim
Kemunduran awal musim kemarau bisa berdampak pada pola curah hujan dan tingkat kelembapan udara. Beberapa dampak yang mungkin terjadi meliputi:
- Curah Hujan Lebih Lama
Dengan musim hujan yang bertahan lebih lama, beberapa daerah mungkin masih mengalami hujan di awal musim kemarau. Namun, begitu kemarau tiba, curah hujan akan menurun drastis.
- Risiko Kekeringan di Puncak Kemarau
Meskipun awal musim kemarau tertunda, saat kemarau benar-benar mencapai puncaknya, beberapa wilayah masih bisa mengalami kekeringan panjang.
Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya air perlu diperhatikan.
- Pengaruh pada Pertanian
Pergeseran musim dapat berdampak pada sektor pertanian, terutama bagi petani yang bergantung pada pola cuaca untuk menentukan jadwal tanam.
BMKG mengimbau petani untuk menyesuaikan waktu tanam agar hasil panen tidak terganggu oleh perubahan pola musim.
Imbauan BMKG
BMKG mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat agar tetap waspada terhadap dampak musim kemarau, terutama dalam pengelolaan air dan antisipasi kebakaran hutan serta lahan (karhutla).
Langkah mitigasi seperti penghematan air, perencanaan pertanian yang tepat, dan kesiapan menghadapi cuaca ekstrem diharapkan dapat mengurangi dampak yang ditimbulkan.
Dengan adanya prediksi ini, masyarakat diharapkan lebih siap menghadapi musim kemarau 2025 yang meskipun mundur, tetap berpotensi membawa kondisi kering di puncaknya. (*)
Editor : Riana M.