Wakatobi, Surga Bawah Laut di Jantung Segitiga Karang Dunia

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 21:30 WIB
Source: Wakatobi.com
Source: Wakatobi.com

Jawa Pos Radar Lawu - Kalau bicara tentang wisata bahari Indonesia, nama Wakatobi mungkin belum sepopuler Bali atau Raja Ampat. Padahal, kepulauan di Sulawesi Tenggara ini menyimpan salah satu kekayaan laut paling luar biasa di Indonesia.

Airnya yang jernih, hamparan terumbu karang, hingga beragam biota laut membuat Wakatobi menjadi tempat yang sulit dilupakan, terutama bagi pencinta snorkeling dan diving.

Nama Wakatobi sendiri berasal dari empat pulau utama yang membentuk kepulauan ini, yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Keempatnya berada di kawasan yang dikenal sebagai bagian dari Coral Triangle, wilayah yang menjadi salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dunia.

Bukan Sekadar Laut Biru

Pesona Wakatobi justru semakin terasa ketika melihat apa yang ada di bawah permukaan lautnya. Kawasan ini memiliki berbagai tipe terumbu karang, mulai dari fringing reef, barrier reef, patch reef, hingga atol. Situs resmi Wakatobi Tourism juga mencatat ada lebih dari 50 lokasi penyelaman yang dapat dijangkau dari pulau-pulau utama.

Keanekaragaman biotanya juga menjadi salah satu alasan Wakatobi begitu istimewa. Indonesia Travel menyebut kawasan ini memiliki sekitar 942 spesies ikan dan 750 spesies karang, sementara UNESCO mencatat Wakatobi memiliki ekosistem laut dan pesisir yang dihuni berbagai jenis ikan, terumbu karang, lamun, mangrove, penyu, dugong, hingga lumba-lumba.

Tak heran kalau menyelam di Wakatobi bukan cuma soal melihat laut berwarna biru. Setiap titik bisa menawarkan pemandangan berbeda, dari dinding karang yang curam, taman karang, hingga berbagai jenis ikan yang hidup di sekitarnya.

Empat Pulau, Empat Karakter

Wangi-Wangi menjadi salah satu pintu masuk utama untuk menjelajahi Wakatobi. Sementara itu, Kaledupa dikenal dengan kehidupan masyarakat pesisir dan kawasan mangrovenya. Tomia memiliki banyak lokasi penyelaman, sedangkan Binongko menawarkan lanskap pesisir yang berbeda dengan tebing dan pantainya.

Menariknya, kehidupan masyarakat Wakatobi juga tidak bisa dipisahkan dari laut. UNESCO mencatat masyarakat di kawasan ini terdiri dari berbagai kelompok, termasuk Wakatobi, Bugis, Buton, Jawa, dan Bajau. Banyak masyarakatnya menggantungkan kehidupan dari sumber daya laut, terutama sektor perikanan.

Baca Juga: Di Antara Dua Gunung Ada Lembah yang Bikin Perjalanan Terasa Berharga

Kawasan Laut yang Harus Dijaga

Wakatobi bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga kawasan konservasi penting. Taman Nasional Wakatobi memiliki luas sekitar 1,39 juta hektare, dengan sebagian besar wilayahnya berupa perairan. Kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional pada 1996 dan kemudian memiliki pengaturan zonasi untuk mendukung perlindungan sekaligus pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.

Keindahan Wakatobi pada akhirnya bukan sekadar tentang air laut yang biru atau foto bawah laut yang cantik. Di baliknya ada ekosistem yang menjadi rumah bagi ribuan jenis makhluk hidup dan masyarakat yang kehidupannya telah lama bergantung pada laut.

Jadi, kalau suatu hari ingin mencari tempat untuk “kabur” dari ramainya kota, Wakatobi bisa menjadi salah satu jawabannya. Di atas permukaan terlihat seperti gugusan pulau tropis biasa, tetapi begitu menyelam lebih dalam, baru terlihat alasan mengapa kawasan ini disebut salah satu permata bahari Indonesia. (*)

(Magang, Anggie Putri Wijayanti - Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Unesco, Visit Indonesia, wakatobitourism.com
healing wakatobi liburan wisata sulawesi