Bukan Sekadar Gunung Ini Alasan Leuser Jadi Rumah Satwa Langka Sumatra

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 21:00 WIB
Source: Lampumerahnews
Source: Lampumerahnews

Jawa Pos Radar Lawu - Kalau mendengar nama Gunung Leuser, yang terbayang mungkin hanya jalur pendakian dan puncak yang tinggi. Padahal, kawasan ini jauh lebih besar dari sekadar sebuah gunung.

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) membentang di Aceh dan Sumatera Utara dengan luas sekitar 830.880 hektare dan memiliki ekosistem dari hutan pantai hingga kawasan pegunungan subalpin.

Yang membuat Leuser begitu istimewa adalah kekayaan satwa yang hidup di dalamnya. Kawasan ini menjadi habitat bagi empat satwa prioritas Sumatra, yaitu orangutan Sumatra, harimau Sumatra, gajah Sumatra, dan badak Sumatra. Keempatnya sama-sama menghadapi ancaman terhadap kelangsungan hidupnya sehingga keberadaan hutan Leuser sangat penting bagi konservasi.

Hutannya Bukan Cuma Satu Jenis

TNGL memiliki bentang alam yang sangat beragam. Mulai dari hutan hujan pantai, hutan dataran rendah, hutan pegunungan bawah, sampai hutan pegunungan atas. Ketinggiannya membentang dari sekitar 0 hingga lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut.

Di dalam kawasan ini juga terdapat sungai, danau, hutan rawa gambut, hingga ekosistem pegunungan. Keragaman tersebut membuat Leuser mampu menjadi rumah bagi begitu banyak jenis tumbuhan dan satwa.

UNESCO mencatat kawasan Gunung Leuser memiliki lebih dari 4.000 spesies tumbuhan dan ratusan spesies burung. Kawasan ini juga menjadi habitat berbagai satwa khas Sumatra, termasuk orangutan Sumatra.

Perlindungannya Sudah Dimulai Sejak Zaman Belanda

Cerita perlindungan Leuser ternyata sudah berlangsung sejak masa kolonial. Pada 6 Februari 1934, masyarakat di sekitar kawasan Leuser mendeklarasikan Tapak Tuan sebagai bentuk komitmen untuk melindungi lingkungan. Deklarasi tersebut kemudian ditandatangani pula oleh Gubernur Hindia Belanda.

Beberapa bulan kemudian, pada 3 Juli 1934, ditetapkan Suaka Margasatwa Gunung Leuser seluas 142.800 hektare. Kawasan tersebut kemudian berkembang hingga akhirnya menjadi Taman Nasional Gunung Leuser yang kita kenal sekarang.

Bagian dari Warisan Dunia

Leuser bukan hanya penting bagi Indonesia. Kawasan ini menjadi bagian dari Tropical Rainforest Heritage of Sumatra, situs Warisan Dunia UNESCO yang juga mencakup Taman Nasional Kerinci Seblat dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Situs tersebut memiliki luas total sekitar 2,5 juta hektare dan dikenal karena keanekaragaman hayatinya yang luar biasa.

TNGL sendiri berstatus Cagar Biosfer UNESCO sejak 1981 dan menjadi bagian dari Warisan Dunia sejak 2004.

Jadi, Leuser bukan hanya tentang mencapai puncak gunung. Di balik hutan hijaunya, ada salah satu benteng terakhir bagi satwa-satwa langka Sumatra. Menjaga Leuser berarti menjaga rumah bagi kehidupan yang mungkin tidak akan kita temukan di tempat lain. (*)

(Magang, Anggie Putri Wijayanti - Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Unesco, KSDaE
Leuser healing taman nasional wisata