Jawa Pos Radar Madiun - Menjelang bulan Ramadan, suasana religius semakin terasa di Kabupaten Jombang.
Ribuan peziarah dari berbagai daerah, mulai Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat, berbondong-bondong mendatangi makam para ulama kharismatik.
Tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian dari ikhtiar spiritual untuk membersihkan hati, memperkuat doa, dan menyambut bulan suci dengan penuh kesiapan.
Jombang dikenal luas sebagai Kota Santri. Dari daerah inilah banyak tokoh besar Nahdlatul Ulama lahir dan memberi pengaruh besar bagi perkembangan Islam di Indonesia.
Tak heran jika makam para kiai di wilayah ini menjadi magnet ziarah, terutama menjelang Ramadan.
Berikut enam makam paling ramai dikunjungi di Jombang lengkap dengan amalan yang biasa dibaca para peziarah.
1. Makam KH Asy’ari Tebuireng
Makam KH Asy’ari, ayah dari KH Hasyim Asy’ari, berada di kawasan Tebuireng. Area ini kerap dipenuhi santri yang datang untuk mengaji dan mengulang hafalan Al-Qur’an.
Banyak santri dari Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng dan Pesantren Al-Ma’arij memilih lokasi ini untuk murajaah. Tilawah Al-Qur’an menjadi amalan utama. Tidak sedikit peziarah yang menuntaskan khatam dalam satu kali duduk sebagai bentuk tabarruk dan doa.
2. Makam KH M Hasyim Asy’ari dan Keluarga Tebuireng
Kompleks makam keluarga Tebuireng menjadi titik ziarah paling padat di Jombang. Di sini dimakamkan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, serta Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Pengelolaan kawasan ini terbilang rapi dengan fasilitas memadai seperti area parkir luas, kamar mandi, hingga museum.
Saat berziarah, peziarah umumnya membaca kalimat tayyibah, tahlil, dan Surah Al-Kahfi. Tradisi membaca Surah Al-Kahfi ini telah lama dijaga para alumni Tebuireng.
3. Makam KH Bisri Syansuri
Berada di sisi utara Masjid Jami Denanyar, makam KH Bisri Syansuri terbuka untuk umum selama 24 jam. Tokoh besar NU ini juga dikenal sebagai kakek Gus Dur.
Santri Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar memiliki wirid khas yang sering dibaca saat berziarah:
“Ya Hayyu Ya Qayyum, La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzalimin.”
Wirid ini dipanjatkan sebagai doa memohon pertolongan dan keberkahan.
4. Makam KH Abdul Wahab Chasbullah
Kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas menjadi lokasi peristirahatan KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri NU dan tokoh penting pergerakan Islam nasional.
Peziarah biasanya membaca Surah Yasin, tahlil, dan melantunkan shalawat berikut:
“Maulaya shalli wa sallim daaiman abadan
Ala habibika khairil khalqi kullihimi
Huwal habibulladzi turja syafa’atuhu
Likulli haulin minal ahwali muqtahimi
Ya Rabb bil Musthafa balligh maqashidana
Waghfir lana ma madha ya wasi’al karami”
Shalawat tersebut dibaca sebagai ungkapan cinta kepada Rasulullah sekaligus doa memohon syafaat.
5. Makam Keluarga Darul Ulum Rejoso
Di kompleks ini dimakamkan para pendiri Pesantren Darul Ulum, termasuk KH Tamim Irsyad dan KH Romli Tamim.
Area makam terbuka selama 24 jam dan selalu ramai, khususnya menjelang Ramadan.
Amalan yang sering dibaca adalah istighosah karya KH Romli Tamim. Istighosah ini disusun melalui riyadhah panjang dan diyakini membawa manfaat dunia dan akhirat bagi yang mengamalkannya secara istiqamah.
6. Makam Sayyid Sulaiman Mojoagung
Terletak di Desa Mancilan, Mojoagung, makam Sayyid Sulaiman tidak pernah sepi peziarah, baik siang maupun malam. Tokoh penyebar Islam di Jawa Timur ini berasal dari marga Basyaiban, keturunan Rasulullah.
Peziarah umumnya memperbanyak membaca shalawat Nabi sebagai bentuk penghormatan dan doa.
Ziarah sebagai Refleksi Spiritual
Tradisi ziarah di Jombang bukan sekadar kunjungan ke makam, tetapi momentum merenungi perjuangan para ulama.
Menjelang Ramadan, lonjakan jumlah peziarah menjadi bukti bahwa kecintaan kepada kiai dan nilai keberkahan tetap hidup di tengah masyarakat.
Di Kota Santri ini, ziarah menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara keteladanan para ulama dan harapan umat menyambut bulan suci dengan hati yang lebih bersih. (fin)
Editor : AA Arsyadani