Jawa Pos Radar Lawu - Isu mengejutkan muncul setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi sorotan publik karena tegas menolak pembayaran utang proyek Kereta Cepat Whoosh senilai Rp116 triliun menggunakan dana negara.
Tak lama setelah keputusan itu, keluarga sang menteri justru diterpa isu teror santet.
Putra Purbaya, Yudo Sadewa, melalui akun Instagram pribadinya @8a41121a, mengaku keluarganya tengah menghadapi gangguan tak biasa di rumah mereka.
“Percayalah kepada Allah, jangan percaya takhayul”
Meski mengaku diteror santet, Yudo Sadewa menegaskan bahwa dirinya dan keluarga tidak mempercayai hal-hal mistis.
Ia justru mengajak keluarganya berpikir rasional dan memperkuat keimanan.
“Semakin Anda percaya, maka santet itu makin kuat. Jadi saya usahakan seluruh keluarga jangan percaya pada begituan. Percayalah kepada Allah, jangan percaya takhayul,” tulis Yudo.
Ia menambahkan, tidak ada hantu, santet, atau kesurupan yang benar-benar terjadi.
Menurutnya, semua itu hanyalah manipulasi jin terhadap pikiran manusia agar takut selain kepada Allah.
“Jangan berpikir dengan logika mistika, berpikirlah secara ilmiah,” ujarnya.
Klarifikasi soal Isu Kiriman Darah
Isu lain sempat viral di media sosial, terutama TikTok, mengenai kiriman darah segar yang dikaitkan dengan keluarganya.
Menanggapi hal ini, Yudo menegaskan bahwa informasi tersebut tidak benar alias hoaks.
Ia menjelaskan bahwa fenomena yang terjadi di rumahnya lebih masuk akal jika dijelaskan dengan teori Poltergeist, gejala benda bergerak atau berpindah tanpa sebab yang jelas.
“Kejadian sebenarnya adalah Poltergeist, di mana barang suka hilang dan berpindah sendiri,” jelasnya.
Sorotan Keuangan Negara
Pernyataan Yudo muncul di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap sikap tegas sang ayah, Menkeu Purbaya, dalam urusan utang proyek kereta cepat.
Dalam acara Media Gathering di Bogor, Jumat (10/10/2025), Purbaya menegaskan tanggung jawab pembayaran utang berada pada pihak swasta, khususnya perusahaan di bawah PT Danantara.
“KCIC di bawah Danantara, mereka sudah punya manajemen sendiri, punya dividen sendiri,” tegas Purbaya.
“Jangan kita lagi, karena kalau enggak ya semua kita lagi termasuk dividennya. Ini kan mau dipisahin antara swasta dan pemerintah.”
Menurutnya, Danantara memperoleh dividen sekitar Rp80 triliun per tahun, yang seharusnya cukup untuk menutup beban keuangan proyek tanpa membebani negara.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebutkan bahwa pemerintah tengah mencari skema alternatif agar pembayaran utang proyek KCIC dapat diselesaikan tanpa membebani APBN.
“Sudah dibicarakan untuk mencari skema supaya beban keuangan itu bisa dicarikan jalan keluar,” ujarnya di depan kediaman Presiden Prabowo Subianto, Minggu (12/10) malam. (fin)
Editor : AA Arsyadani