Jawa Pos Radar Lawu - Terletak di lereng Gunung Argopuro, sekitar 27 kilometer dari pusat Kabupaten Jember, Pemandian Patemon menjadi salah satu destinasi wisata tertua dan paling legendaris di Jember.
Suasana pegunungan yang sejuk, aliran air alami yang jernih, serta sejarah panjang yang menyelimuti kawasan ini menjadikannya bukan sekadar tempat rekreasi, tapi juga lokasi penuh cerita mistis dan mitos cinta abadi.
Legenda Cinta Dewi Rengganis dan Pangeran Andi Sose
Cerita rakyat menyebut, Pemandian Patemon adalah tempat pertemuan Dewi Rengganis dan Andi Sose, seorang pangeran asal Makassar.
Dewi Rengganis yang kerap mandi di telaga alami ini suatu hari mendapati sang pangeran mengintip dari kejauhan.
Meski awalnya marah, Dewi Rengganis luluh oleh ketulusan hati sang pangeran. Pertemuan inilah yang melahirkan nama “Patemon”, berasal dari kata katemon (bahasa Madura) yang berarti bertemu.
Kisah ini melahirkan mitos kuat: pasangan yang mandi bersama di Patemon akan memiliki hubungan yang langgeng.
Tak heran, banyak pengantin dari luar kota datang berendam di pemandian ini dengan harapan cinta mereka mendapat restu abadi.
Air Suci dan Dua Naga Gaib Penjaga
Air Patemon dipercaya berasal dari Danau Taman Hidup dan dianggap sebagai air suci pemberian Sang Hyang Widhi.
Menurut sesepuh Tengger, air ini memiliki energi spiritual dan daya penyembuhan.
Setiap Tahun Baru Imlek, warga Tionghoa mengambil air Patemon sebagai simbol penyucian dan keberkahan rumah tangga.
Namun, tempat ini juga dikelilingi nuansa mistis.
Konon, dua naga gaib berwarna hijau dan kuning menjadi penjaga kawasan Patemon.
Mereka melindungi tempat ini dari niat jahat dan perbuatan asusila.
Tahun 2008, sekelompok orang mencoba melakukan ritual penarikan mustika gaib, namun gagal.
Mereka terlempar dan lari ketakutan setelah diyakini “dimarahi” sang naga.
Sejak saat itu, pengelola melarang segala bentuk praktik klenik di area pemandian.
Makam Keramat dan Sosok Mbah Eyang Kiai Sapu Jagat
Tak jauh dari kolam utama, di bawah rimbunnya pohon jati dan bambu, terdapat kompleks pemakaman tua.
Tiga makam di antaranya milik pejuang era kolonial, sementara satu makam diyakini sebagai tempat peristirahatan Kiai Tirto Kusumo atau Mbah Eyang Kiai Sapu Jagat.
Dia merupakan ulama penyebar Islam asal Banten.
Penemuan makam ini bermula dari penelusuran spiritual seseorang dari Banten.
Arca Misterius di Bawah Tanah
Selain kisah cinta dan spiritual, kawasan ini juga menyimpan jejak sejarah kuno.
Penelitian Pemerintah Kabupaten Jember menemukan tujuh arca kuno terkubur di sekitar area pemandian.
Upaya penggalian dibatalkan karena posisinya berada pada kedalaman delapan meter berlumpur, yang berisiko merusak struktur tanah.
Hingga kini, lokasi pastinya dirahasiakan. (fin)
Editor : AA Arsyadani