Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Mengenal Seijin Shiki, Upacara Kedewasaan Anak Muda Jepang yang Telah Berlangsung sejak Abad ke-8

AA Arsyadani • Minggu, 14 September 2025 | 18:20 WIB
Upacara Seijin Shiki di Jepang jadi tanda resmi kedewasaan usia 20 tahun, sarat filosofi, tradisi, dan keunikan di berbagai daerah.
Upacara Seijin Shiki di Jepang jadi tanda resmi kedewasaan usia 20 tahun, sarat filosofi, tradisi, dan keunikan di berbagai daerah.

Jawa Pos Radar Lawu - Jepang memiliki tradisi khas dalam menyambut generasi muda yang memasuki fase kehidupan baru, yaitu upacara Seijin Shiki atau Hari Kedewasaan.

Perayaan ini menjadi momen penting untuk menghormati pemuda berusia 20 tahun, usia yang secara hukum menandai kedewasaan dengan hak dan tanggung jawab baru.

Awalnya, Seijin Shiki berakar dari upacara Seinen-Sai yang pertama kali digelar pada 22 November 1946 di kota Warabi, Distrik Kitaadachi.

Latar belakangnya adalah rasa khawatir bangsa Jepang pasca-Perang Dunia II terhadap masa depan anak muda.

Sejak saat itu, Seijin Shiki berkembang menjadi upacara nasional yang dirayakan setiap Senin kedua bulan Januari.

Pada 1948, pemerintah Jepang menetapkan momen ini sebagai hari libur nasional.

Menariknya, sebelum tahun 2000, upacara kedewasaan selalu diperingati setiap 15 Januari.

Namun, demi mendukung sistem Happy Monday dan memberi waktu libur panjang, jadwalnya dipindahkan ke Senin kedua Januari.

Sejak zaman kuno, Jepang sudah mengenal tradisi kedewasaan.

Bagi laki-laki dikenal dengan istilah Genbuku, sementara perempuan menyebutnya Mogi.

Secara antropologis, upacara ini termasuk ritual inisiasi yang menandai peralihan menuju kehidupan dewasa.

 

Syarat dan Peserta

Peserta Seijin Shiki adalah mereka yang berusia genap 20 tahun pada periode tertentu, biasanya dari 2 April tahun sebelumnya hingga 1 April tahun berjalan.

Undangan resmi dikirim oleh pemerintah daerah, baik bagi mereka yang berdomisili tetap maupun yang lahir di daerah tersebut.

Beberapa wilayah bahkan menyesuaikan jadwal agar anak muda yang sedang merantau bisa ikut hadir dalam momen sakral ini.

Suasana dan Aturan

Seijin Shiki identik dengan pakaian tradisional.

Wanita biasanya mengenakan kimono furisode berlengan panjang, simbol masa muda dan status perempuan lajang.

Laki-laki umumnya tampil dengan jas formal atau mengenakan haori serta hakama.

Acara resmi biasanya berlangsung sekitar satu jam di aula pemerintahan atau gedung serbaguna.

Isinya berupa pidato pejabat daerah yang menekankan tanggung jawab sosial, pemberian cendera mata, hingga sesi foto bersama keluarga dan teman.

Setiap Kota Punya Kearifan Lokal

Setiap kota memiliki ciri khas. Misalnya, Tokyo menggelar upacara di lokasi ikonik seperti Shibuya atau Kuil Meiji Jingu.

Prefektur Chiba merayakan Seijin Shiki di Tokyo Disney Resort bersama karakter Disney.

Kota Narita menyelenggarakan upacara di Bandara Internasional Narita, sementara Kitakyushu dikenal dengan gaya peserta yang nyentrik, meniru subkultur anak geng motor.

Fenomena ini sering dibandingkan dengan suasana meriah perayaan Halloween.

Makna Filosofis

Seijin Shiki lebih dari sekadar pesta.

Tradisi ini telah berlangsung sejak abad ke-8, ketika seorang pangeran menandai kedewasaannya dengan mengenakan jubah baru dan gaya rambut khas.

Filosofi yang terkandung adalah kesadaran bahwa dewasa berarti siap memikul tanggung jawab, berperan dalam masyarakat, hingga berani mengambil keputusan penting.

Di usia ini pula seseorang mendapat hak memilih, serta secara hukum boleh mengonsumsi alkohol dan merokok.

Lebih dalam lagi, Seijin Shiki adalah simbol pengikat nilai budaya yang terus diwariskan lintas generasi. (fin)

 

Editor : AA Arsyadani
#Hari Kedewasaan Jepang #budaya jepang #seijin shiki