Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Dari Keturunan Kyai Besari! ISI Surakarta Edukasi Cara Membuat Kertas Gendhong Khas Tegalsari

Nosa Retno Palupi Utami • Selasa, 22 Juli 2025 | 13:46 WIB
Pelatihan bersama ISI Surakarta membuat kertas dluwang atau gedhog atau gendhong khas Tegalsari Ponorogo
Pelatihan bersama ISI Surakarta membuat kertas dluwang atau gedhog atau gendhong khas Tegalsari Ponorogo

Jawa Pos Radar Lawu- Kertas Gendhong atau kertas Dluwang merupakan kertas khas Ponorogo utamanya dari daerah Tegalsari.

Kertas ini merupakan salah satu peninggalan dari tokoh bersejarah Ponorogo, yaitu Kyai Ageng Hasan Besari yang mendirikan Masjid Jami’ Tegalsari.

Cara pembuatan kertas gendhong khas Tegalsari ini secara turun menurun diturunkan kepada keturunan Kyai Besari dan santri-santrinya di Tegalsari.

Kertas gendhong atau biasa disebut kertas gedhog ini berasal dari serat kulit kayu glugu atau kelapa muda yang berusia 6 bulan sampai 1,5 tahun.

Gayuh Styono selaku Ketua Penyelenggara Workshop Pelestarian Kertas Tradisional Gendhong Ponorogo ini meneliti dan belajar langsug cara pembuatan kertas Gendhong khas Tegalsari dari keluarga keturuan asli Kyai Hasan Besari.

Gayuh belajar pembuatan ketas ini melalui Ibu Rosidatin yang merupakan istri dari almarhum Mbah Cipto yang merupakan keturunan dari Kyai Hasan Besari. 

Gayuh menuturkan jika kita memanen batang pohon glugu yang usianya lebih dari 1,5 tahun maka akan mempengaruhi warna kertas yang dihasilkan serta seratnya lebih keras teksturnya.

Dari batang kayu glugu, batang yang telah dikupas, hingga lembaran serat yang telah difermentasi.
Dari batang kayu glugu, batang yang telah dikupas, hingga lembaran serat yang telah difermentasi.

Batang kayu glugu ini dipotongd dengan panjang sekitar 30cm atau sesuai selera untuk panjang kertas yang ingin dibuat.

Setelah itu potongan batang kayu itu disisir atau dikupas menggunakan pisau sampai hilang kulit terluarnya, dan terlihat kulit dalamnya yang berwarna putih kekuningan.

Setelah itu perlahan kupas bagian kulit dari batang tersebut yang memiliki ketebalan sekitar 3mm-5mm menggunakan pisau lengkung.

Pisau pengupas dan pisau serut serta kemplong.
Pisau pengupas dan pisau serut serta kemplong.

Setelah kulit terkupas akan membentuk lembaran persegi, lembaran ini digulung lalu difermentasi dengan daun pisang sebagai pembungkusnya.

Fermentasi ini berlangsung selama 1-3 hari tergantung dengan usia batang kayu. Semakin tua maka semakin lama durasi fermentasinya.

Setelah itu sediakan kain untuk alas serat kayu, kain yang berwarna gelap akan sangat membantu, letakkan kain pada papan kayu yang cukup luas atau meja yang cukup kuat.

Lalu kertas ditumbuk menggunakan alat pukul dari baja kuningan bernama kemplong.

Penambahan panjang kertas tidak menggunakan perekat atau lem apapun.  

Teknik yang digunakan adalah dengan memukuli serat kayu sampai melebar 4x lebih lebar dari lebar semula, lalu setelah tipis dan rapi, baru ditambahkan atau ditumpuk serat kayu lagi lalu direkatkan dengan ditumbuk atau dipukul bersama.

Perlahan-lahan pukul kearah berlawanan sehingga serat melebar dengan sendirinya.

Setelah lebar dan ketebalan serat dirasa cukup, keringkan dibawah sinar matahari.

Lalu haluskan serat dengan cangkang siput atau botol kaca.

Pembuatan kertas Dluwang atau Gedhog atau Kertas Gendhong khas Tegalsari Ponorogo ini selain memiliki unsur sejarah yang luhur, juga melalui proses pembuatan tradisional handmade yang memiliki nilai tinggi dan berpotensi besar untuk industri kreatif Ponorogo. (*)

Editor : Riana M.
#tegalsari #kulit kayu #Kertas Gendhong #cara membuat #isi surakarta #kertas dluwang #ponorogo