Jawa Pos Radar Lawu - ARTJOG 2025 kembali hadir di Jogja National Museum dari 20 Juni hingga 31 Agustus 2025, mengusung tema Motif: Amalan yang menutup trilogi eksplorasi tentang seni dan masa depan. Tahun ini, selain pameran utama, sorotan khusus juga diberikan kepada generasi muda melalui Young Artist Award (YAA), ajang yang menampilkan seniman di bawah usia 35 tahun dengan karya inovatif, bermakna, dan relevan.
Tiga seniman muda berikut berhasil mencuri perhatian dengan instalasi yang tidak hanya indah secara visual, tapi juga menyentuh sisi spiritual, sosial, hingga teknologi masa kini. Siapa saja mereka?
1. Faelerie – The Thirteen Offerings
Seniman asal Yogyakarta ini tampil memukau dengan instalasi multimedia bertajuk The Thirteen Offerings. Mengusung nuansa spiritual dan budaya Jawa, karya ini menggunakan elemen alami seperti kayu, kain tenun, dan lilin untuk menciptakan ruang hening yang penuh perenungan.
Dengan pendekatan ritualistik dan atmosfer sakral, Faelerie mengajak pengunjung merenungi makna pengorbanan dan tindakan kecil sebagai bentuk ibadah. Karyanya dianggap berhasil menghidupkan makna “amalan” secara konseptual dan estetis, membuatnya pantas menyandang gelar penerima YAA 2025.
2. S. Urubingwaru – The World Farewell Parade & Nikola Tesla and the Lost Dialogues
Dari Bandung, hadir S. Urubingwaru dengan karya yang menggabungkan unsur mitologi, sejarah alternatif, dan fiksi ilmiah. Dua karya interaktifnya membawa penonton ke dunia fantasi post-apokaliptik dan eksperimen pemikiran ala Nikola Tesla.
Dengan desain kompleks dan warna-warna berani, Urubingwaru sukses merangkai narasi visual yang mengusik isu kekuasaan, identitas, dan teknologi. Ia membuktikan bahwa seni bisa menjadi medium refleksi sejarah dan masa depan sekaligus.
3. Veronica Liana – Rupa Tan Matra
Menggabungkan augmented reality (AR), cahaya, dan seni instalasi, Veronica Liana menciptakan pengalaman imersif dalam karyanya Rupa Tan Matra. Melalui aplikasi khusus, pengunjung dapat menyaksikan dimensi visual yang berubah-ubah sesuai sudut pandang, menciptakan interaksi unik antara dunia fisik dan digital.
Veronica ingin pengunjung merasa menjadi bagian dari karya, bukan sekadar penonton. Konsepnya mencerminkan bagaimana seni bisa menyentuh kesadaran melalui pendekatan teknologi modern. Tak heran, ia menyabet penghargaan YAA 2025.
ARTJOG Kids: Kreativitas Anak yang Tak Kalah Menginspirasi
Selain YAA, ARTJOG 2025 juga menggelar ARTJOG Kids, program edukatif untuk anak-anak usia 6–15 tahun. Salah satu karya menonjol adalah The Love for All Living Creatures oleh kelompok REcycle-EXPerience dari Bandung, yang mengajak anak-anak membuat karya dari mainan bekas dan limbah anorganik.
Karya ini tak hanya penuh warna dan ekspresif, tapi juga menyampaikan pesan ekologis tentang pentingnya daur ulang dan kepedulian terhadap makhluk hidup. Lewat proses lokakarya, anak-anak belajar bahwa seni bisa menjadi alat untuk menyuarakan perubahan sejak dini. (fin)
Editor : AA Arsyadani