Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Gugon Tuhon: ‘Aja Dolanan Beras, Mundhak Drijiné Kithing’ Larangan Jawa yang Sarat Makna tentang Filosofi Menghormati Rezeki

Sukma Maharani Putri • Kamis, 26 Juni 2025 | 01:53 WIB

 

Main beras bisa bikin jari keriting? Yuk, pahami makna budaya dan pesan moral di balik larangan ini!
Main beras bisa bikin jari keriting? Yuk, pahami makna budaya dan pesan moral di balik larangan ini!

Jawa Pos Radar Lawu - Ungkapan “Aja dolanan beras, mundhak drijiné kithing” (Jangan bermain beras, nanti jarinya cacat).

Sekilas terdengar seperti mitos aneh yang tidak masuk akal, tapi larangan ini mengandung pesan moral penting dalam budaya Jawa.

Kenapa Main Beras Dilarang?

Dalam tradisi Jawa, beras bukan sekadar makanan, tapi simbol rezeki dan berkah.

Bahkan dianggap sebagai perwujudan Dewi Sri, dewi kesuburan dan kemakmuran.

Bermain-main dengan beras dipandang sebagai bentuk tidak menghormati rezeki, dan dikhawatirkan akan membawa akibat buruk—yang disimbolkan lewat ancaman jari keriting.

Larangan ini sebenarnya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menumbuhkan rasa hormat pada makanan.

Sekaligus mendidik anak-anak agar tidak sembrono terhadap sesuatu yang bernilai tinggi.

Masih Relevan di Zaman Sekarang?

Meski zaman sudah berubah dan orang tak lagi percaya jari bisa cacat atau keriting karena main beras, pesan moral di baliknya masih sangat relevan.

Dalam satu genggam beras ada usaha petani, proses panjang, dan doa orang tua.

Bermain dengan beras artinya menyia-nyiakan hasil jerih payah banyak orang.

Melalui gugon tuhon ini, masyarakat Jawa mengajarkan pentingnya memperlakukan makanan dengan hormat, menjaga rezeki, memahami nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

Sekaligus menanamkan pendidikan karakter melalui kebiasaan sehari-hari.

Pendidikan Moral Lewat Larangan Simbolik

Gugon tuhon seperti ini adalah bagian dari cara halus masyarakat Jawa dalam mendidik anak sejak dini.

Bukannya dimarahi dengan keras, anak-anak diajarkan dengan ungkapan ringan tapi penuh makna.

Agar senantiasa tertanam sikap tanggung jawab, sopan santun, dan rasa syukur terhadap rezeki.(fin)

 

Editor : AA Arsyadani
#gugon tuhon #filosofi hidup #local wisdom #budaya jawa #kearifan lokal