Jawa Pos Radar Lawu – Di tengah gempuran modernisasi, banyak budaya lokal mulai terlupakan. Salah satunya adalah gugon tuhon.
Yakni, larangan-larangan tradisional khas Jawa yang dulu dipercaya tanpa banyak tanya.
Kini, masih perlukah kita percaya pada gugon tuhon di era serba logis ini?
Apa Itu Gugon Tuhon?
Gugon tuhon adalah tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Jawa.
Meski sering dianggap takhayul, banyak gugon tuhon yang sebenarnya menyimpan pesan moral dan etika.
Tradisi ini tergolong sebagai tradisi lisan sekunder, karena sebagian sudah terdokumentasi dan berkembang sesuai zaman.
Dahulu Dipatuhi, Sekarang Dipertanyakan
Dulu, larangan seperti “ora ilok” atau “ora becik” langsung ditaati karena dianggap petuah leluhur.
Misalnya, larangan “Aja nglungguhi bantal, mundhak wudunên” (jangan duduk di atas bantal, nanti bisulan).
Secara ilmiah memang tidak terbukti, tapi secara etika, larangan itu mengajarkan sopan santun—karena bantal adalah simbol kehormatan bagi kepala.
Baca Juga: Makna Spiritual Malam 1 Suro di Keraton Yogyakarta dan Surakarta: Simbol Refleksi dan Penyucian Diri
Relevansi di Era Modern
Generasi sekarang lebih kritis dan logis. Gugon tuhon pun tak lagi diterima begitu saja.
Tapi bukan berarti harus ditinggalkan. Nilai-nilai moral di baliknya tetap penting dan bisa diajarkan lewat pendidikan karakter dan pendekatan simbolik yang lebih rasional.
Bukan Mitos, Tapi Kearifan Lokal
Gugon tuhon adalah bagian dari kearifan lokal yang sarat nilai dan makna.
Jika dikemas dengan cara yang lebih kontekstual, tradisi ini bisa tetap hidup dan relevan, bahkan menjadi penopang karakter di tengah dunia yang terus berubah. (fin)
Editor : AA Arsyadani