Jawa Pos Radar Lawu - Setiap tahun, selalu ada kabar heboh soal "kromosom Y yang menghilang" dan spekulasi bahwa pria akan punah dalam beberapa juta tahun ke depan.
Tapi apakah benar seperti itu?
Yuk, kita kupas tuntas dengan bahasa yang mudah dipahami.
Kromosom Y Memang Menyusut, Tapi Bukan Baru Terjadi
Sekitar 166 juta tahun lalu, kromosom Y dan X berukuran hampir sama.
Tapi kini, kromosom Y hanya membawa sekitar 55 gen, jauh lebih sedikit dibandingkan kromosom X yang punya sekitar 900 gen.
Jika terus menyusut dengan kecepatan yang sama, banyak ilmuwan memprediksi bahwa kromosom Y bisa lenyap dalam waktu 5 juta tahun.
Lalu apa artinya? Apakah ini berarti laki-laki akan punah?
Kenapa Kromosom Y Bisa Menyusut?
Untuk memahami ini, kita perlu tahu cara kerja pewarisan gen.
Mayoritas kromosom datang berpasangan dan bisa saling bertukar informasi lewat proses rekombinasi genetik saat pembentukan sel kelamin (meiosis).
Proses ini membantu menyingkirkan mutasi genetik yang buruk.
Sayangnya, kromosom Y tidak punya pasangan sejati seperti kromosom X.
Karena itu, ia tidak bisa menjalani rekombinasi untuk membuang mutasi buruk.
Seiring waktu, mutasi itu menumpuk dan membuat banyak gen di kromosom Y rusak atau hilang.
Belum cukup di situ, kromosom Y juga diwariskan lewat sperma.
Berbeda dengan sel telur yang sudah “jadi” sejak lahir, sperma terus diproduksi sepanjang hidup pria.
Proses ini rentan terhadap mutasi karena melibatkan pembelahan sel berulang kali.
Tapi Tunggu Dulu... Tikus Saja Bisa Bertahan Tanpa Kromosom Y!
Kasus unik terjadi pada tikus berduri Amami.
Mereka sama sekali tidak punya kromosom Y, tapi tetap punya tikus jantan dan betina.
Para ilmuwan Jepang menemukan bahwa kromosom 3 tikus jantan mengalami duplikasi di dekat gen SOX9, gen penting yang biasanya diaktifkan oleh gen SRY pada kromosom Y untuk membentuk testis.
Dengan adanya duplikasi ini, SOX9 aktif tanpa bantuan SRY, sehingga kromosom 3 berubah fungsi jadi kromosom seks baru.
Artinya, meskipun kromosom Y lenyap, sistem reproduksi tetap jalan terus!
Bagaimana dengan Manusia?
Untungnya, kromosom Y manusia punya cara bertahan hidup yang cerdas.
Ia bisa melakukan konversi gen alias “rekombinasi dengan dirinya sendiri” berkat struktur DNA berbentuk palindrom.
Urutan yang bisa dibaca dari dua arah, seperti kata “katak” atau frasa “kasur rusak”.
Struktur palindrom ini memungkinkan kromosom Y memperbaiki bagian yang rusak dengan menyalin informasi dari sisi lainnya.
Jadi, meskipun terus mengalami tekanan evolusi, kromosom Y tidak menyerah begitu saja.
Bahkan jika kromosom Y benar-benar hilang suatu hari nanti, sangat mungkin gen SRY berpindah ke kromosom lain atau wilayah lain dalam genom manusia mengambil alih perannya.
Seperti halnya yang terjadi pada tikus berduri.
Pria Belum Akan Punah, Tenang Saja!
Meski kromosom Y menyusut, pria tidak akan punah dalam waktu dekat.
Alam punya banyak cara untuk beradaptasi. Manusia bisa tetap bereproduksi dengan bantuan gen lain, bahkan jika kromosom Y suatu hari menghilang.
Jadi, buat para pria: kalian masih akan tetap eksis, setidaknya selama beberapa juta tahun ke depan. (fin)
Editor : AA Arsyadani