Jawa Pos Radar Lawu - Siapa yang nggak kenal Chairil Anwar?
Penyair legendaris ini kembali mencuri perhatian.
Kali ini bukan di buku sastra, tapi di stasiun kereta bawah tanam Seoul Korea Selatan!
Puisi "Aku" yang fenomenal itu dipajang di dua stasiun besar, yaitu Stasiun Yeouido (Jalur 5) dan Stasiun Gangnam (Jalur 2), dalam dua bahasa: Indonesia dan Korea.
Bagian dari Program Sastra Multinasional
Pajangnya puisi "Aku" di Seoul adalah bagian dari Program Puisi Multinasional yang digagas oleh Pemerintah Kota Seoul.
Program ini bertujuan mengenalkan karya sastra dari berbagai negara di ruang publik.
Biar warga lokal dan turis bisa menikmati keindahan literatur dunia saat bepergian.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Seoul ikut andil dalam program ini dengan memilih puisi "Aku" sebagai wakil sastra Indonesia.
Keputusan ini tentu bukan tanpa alasan puisi ini mencerminkan semangat kebebasan, perlawanan, dan individualisme, nilai-nilai yang masih relevan hingga sekarang.
Kenapa Puisi "Aku" Dipilih?
Puisi "Aku" adalah salah satu karya paling ikonik dalam sejarah sastra Indonesia. Ditulis oleh Chairil Anwar pada tahun 1943.
Puisi ini menggambarkan semangat perjuangan dan tekad yang kuat.
Gaya bahasanya yang lugas, penuh emosi, dan pemberontakan membuatnya tetap relevan hingga saat ini.
Sekarang, dengan tampilnya puisi ini di Seoul, lebih banyak orang bisa mengenal sastra Indonesia dan memahami nilai-nilai universal yang disampaikan Chairil Anwar.
Sastra Indonesia Makin Mendunia
Nggak cuma "Aku", program ini juga menampilkan puisi dari berbagai negara seperti Inggris, India, Malaysia dan Slovakia.
Ini jadi bukti kalau sastra adalah bahasa universal yang bisa menyatukan banyak bangsa.
Dengan hadirnya puisi Chairil Anwar di ruang publik Korea Selatan, sastra Indonesia makin mendapat pengakuan di kancah internasional.
Harapannya, ke depan makin banyak karya sastra Indonesia yang dipromosikan di luar negeri.
Dari sekadar teks di buku pelajaran, kini puisi "Aku" tampil di jantung kota Seoul.
Ini bukan hanya kebanggaan bagi sastra Indonesia, tapi juga bukti bahwa karya-karya kita punya daya tarik global.
Semoga makin banyak karya anak bangsa yang diapresiasi dunia! (fin)
Editor : Nur Wachid