Jawa Pos Radar Lawu - Gunung Lawu, dikenal dengan kekayaan spiritual dan tradisi. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga kini, Ritual Dukutan, upacara yang dilakukan setiap tujuh bulan sekali oleh masyarakat sekitar.
Ritual ini sarat dengan makna spiritual dan sosial, menjadikannya salah satu daya tarik utama bagi mereka yang mencari pengalaman budaya dan spiritual di Jawa.
Sejarah dan Makna Ritual Dukutan
Ritual Dukutan memiliki akar yang dalam dalam budaya Jawa, khususnya di Desa Nglurah, Kecamatan Tawangmangu.
Tradisi ini awalnya dilakukan sebagai simbol pemersatu antara dua dusun yang sering berselisih, yaitu Nglurah Lor dan Nglurah Kidul.
Melalui upacara ini, warga dari kedua dusun berusaha untuk membangun kembali kerukunan dan kebersamaan setelah konflik yang sering terjadi di masa lalu.
Dukutan sendiri dilakukan pada wuku Dukut dalam penanggalan Jawa, yang dipercaya sebagai waktu yang sakral.
Pada upacara ini, warga membawa berbagai sesaji dan makanan, yang kemudian didoakan bersama sebelum dibagikan atau dilemparkan sebagai bagian dari ritual.
Salah satu bagian unik dari ritual ini tawur sesaji, di mana warga saling melempar sesaji sebagai simbol keberkahan.
Lemparan ini tidak menimbulkan kemarahan, tetapi justru dianggap membawa berkah bagi yang terkena.
Pelaksanaan Ritual Dukutan
Selama Dukutan, berbagai sajian dibawa oleh warga sebagai persembahan, termasuk ayam ingkung, yang merupakan simbol rasa syukur dan permohonan berkah.
Ritual Dukutan juga sering kali menjadi ajang pertunjukan seni tradisional, seperti gamelan dan reog, yang semakin memperkaya suasana sakral dan budaya dalam upacara tersebut.
Selain sebagai bentuk pengabdian spiritual, Dukutan juga berfungsi sebagai pemersatu sosial yang mempererat hubungan antarwarga desa.
Ritual Dukutan, warisan budaya Jawa yang masih lestari hingga kini. (kid)
Editor : Nur Wachid