MAGETAN, Jawa Pos Radar Lawu – Tumpeng Tedak Ripih, salah satu elemen penting dalam tradisi Larung Sesaji di Telaga Sarangan, Magetan.
Upacara ini digelar setiap tahun untuk mengungkapkan rasa syukur dan memohon keselamatan serta kesejahteraan masyarakat.
Makna Tumpeng Tedak Ripih
Tumpeng Tedak Ripih, tumpeng yang terbuat dari nasi kuning, dikelilingi oleh aneka sayuran dan lauk-pauk yang disusun dengan indah.
Nama "Tedak Ripih" berasal dari bahasa Jawa, yang berarti turun dengan rapi.
Dipercaya sebagai lambang harapan agar setiap langkah kehidupan dijalani dengan tertib dan penuh berkah.
Tumpeng ini melambangkan kesuburan dan keharmonisan antara manusia dengan alam sekitarnya.
Proses Upacara Larung Sesaji
Dalam tradisi Larung Sesaji, Tumpeng Tedak Ripih diarak menuju Telaga Sarangan bersama Tumpeng Gono Bau.
Arak-arakan ini diiringi oleh doa-doa dari sesepuh desa, yang memohon keselamatan dan rezeki berlimpah bagi warga setempat.
Setelah itu, tumpeng dilarung ke tengah telaga sebagai simbol pengembalian segala berkah kepada alam dan Tuhan.
Prosesi ini juga menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi di antara masyarakat.
Nilai Budaya dan Spiritual
Tradisi Larung Sesaji, termasuk Tumpeng Tedak Ripih, mengandung nilai budaya dan spiritual yang tinggi.
Selain sebagai wujud syukur, tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
Dengan melestarikan tradisi ini, masyarakat tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memperkuat hubungan dengan leluhur dan Tuhan.
Upacara Larung Sesaji juga memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata di Magetan. (kid)
Editor : Nur Wachid