Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Ketika Bumi Semakin Rusak, Tafsir Ekologi Jadi Harapan Baru Atasi Krisis Lingkungan

AA Arsyadani • Kamis, 22 Mei 2025 | 17:40 WIB
Khafidhoh mempresentasikan proposal disertasi tafsir ekologi di Klinik Proposal Disertasi S-3 Studi Islam IAIN Ponorogo.
Khafidhoh mempresentasikan proposal disertasi tafsir ekologi di Klinik Proposal Disertasi S-3 Studi Islam IAIN Ponorogo.

Jawa Pos Radar Lawu - Sore itu, cahaya senja menyusup lembut melalui jendela lantai dua Gedung Pascasarjana IAIN Ponorogo.

Di dalam ruang Prodi S-3 Studi Islam, sejumlah dosen dan mahasiswa doktoral duduk dalam keheningan yang sarat makna.

Bukan sekadar sore biasa.

Klinik Proposal Disertasi edisi ke-7 tengah digelar.

Menyuguhkan pendekatan baru yang krusial dalam menghadapi masalah lingkungan saat ini: tafsir ekologi dalam merespons krisis lingkungan global.

Seorang mahasiswi doktoral duduk di hadapan forum, membuka lembar demi lembar presentasinya dengan tenang namun pasti.

Khafidhoh, mahasiswa angkatan pertama Program Doktor Studi Islam, membawa misi ilmiah sekaligus moral.

Dia membaca ulang ayat-ayat Al-Qur’an tentang tanah sebagai solusi atas kerusakan ekologis yang makin meluas.

“Fokus pada tema tanah dalam Al-Qur’an sudah cukup kuat. Yang penting adalah bagaimana membangun konstruksi tafsir yang kuat dan relevan dengan konteks krisis lingkungan hari ini,” ungkap Prof. Dr. Muh. Tasrif, M.Ag., penguji sekaligus promotor.

Topik yang ia angkat bukan hanya akademis, tetapi juga menyentuh lapisan kepekaan spiritual dan tanggung jawab ekologis.

Dalam paparannya, Khafidhoh memperkenalkan pendekatan yang ia sebut sebagai tafsir ekologi atau ekoteologi Qur’ani.

Sebuah metode penafsiran yang mengaitkan pesan-pesan wahyu dengan kondisi bumi hari ini.

Disertasi Khafidhoh mengusung tema tafsir ekologi.

Penelitian ini berfokus pada ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas tanah dalam berbagai dimensinya.

Baik sebagai elemen penciptaan manusia, tempat kehidupan, hingga simbol keterhubungan manusia dengan alam.

Lebih jauh, Khafidhoh mencoba mengelaborasi relevansi pesan-pesan tersebut dalam konteks krisis lingkungan kontemporer.

Menjadikannya sebagai tawaran etika ekologis yang bersumber dari wahyu.

Tafsir Ayat Tanah: Dari Spiritualitas Menuju Etika Ekologis

Bagi Khafidhoh, “tanah” dalam Al-Qur’an bukan sekadar unsur fisik material.

Ia adalah simbol kehidupan, saksi sejarah, dan bahkan manifestasi relasi antara manusia dan Sang Pencipta.

Tafsir ekologis yang ia bangun bertujuan untuk menjadikan ayat-ayat tanah sebagai landasan etika dan kesadaran ekologis umat Islam di era krisis ini.

“Peneliti perlu mendalami berbagai jenis tafsir dan juga harus mampu mengidentifikasi kata-kata kunci dalam Al-Qur’an yang merujuk pada tanah. Hal ini penting untuk memastikan kerangka penelitian betul-betul kokoh secara filologis dan tematis,” terang Ketua Prodi S-3 Studi Islam, Dr. Basuki, M.Ag., yang memimpin sidang klinik proposal ini.

Ekoteologi sebagai Ruang Baru Kajian Tafsir

Di tengah dunia akademik yang kerap berkutat pada diskursus normatif, Khafidhoh mencoba menghadirkan warna baru.

Ia menggabungkan ilmu tafsir dengan kepedulian terhadap bumi.

Disertasi ini tak hanya memperluas khazanah keilmuan Islam, tetapi juga memberi kontribusi nyata dalam merespons krisis lingkungan dari perspektif keagamaan.

Klinik ini adalah satu dari 14 seri pembinaan akademik yang dirancang untuk menempa mahasiswa doktoral agar mampu merespons tantangan zaman secara ilmiah dan kontekstual.

Di dunia yang semakin menua, secercah pemikiran dari ruang sidang Klinik Proposal Disertasi itu menjadi pengingat: sudah saatnya ayat-ayat suci dibaca dengan mata bumi.

Tafsir tak cukup hanya berhenti di langit kata-kata, tetapi harus menjejak tanah di bumi tempat kita berpijak selama ini. (*/fin)

 

Editor : AA Arsyadani
#krisis lingkungan #Ekoteologi #IAIN Ponorogo #disertasi doktor #tafsir ekologi #etika lingkungan