Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

10 Tradisi Unik Siap Mewarnai Sambut Lebaran di Berbagai Wilayah Indonesia

Nur Wachid • Sabtu, 22 Maret 2025 | 21:55 WIB
Tradisi pada saat menjelang lebaran
Tradisi pada saat menjelang lebaran

Jawa Pos Radar Lawu - Tak hanya beragam, berbagai tradisi dalam rangka menyambut Lebaran Idul Fitri dari berbagai daerah di Indonesia juga memiliki keunikan dan maknanya masing-masing.

Apa saja tradisi unik menyambut Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri yang ada di Indonesia? Simak daftar tradisi menyambut menyambut Lebaran Idul FItri di Indonesia dari berbagai daerah :

Meugang (Aceh)

Meugang atau Makmeugang dari Aceh merupakan tradisi menyembelih ratusan hewan sapi atau kambing dan dilaksanakan 3 kali dalam setahun, yaitu Idul FItri, Idul Adha, dan Ramadhan.

Tradisi Meugang di desa biasanya berlangsung sehari sebelum hari raya, sedangkan di kota berlangsung dua hari sebelum hari raya.

Biasanya masyarakat memasak daging di rumah, setelah itu membawanya ke masjid untuk makan bersama tetangga dan warga yang lain.

Bakar Gunung Api/Ronjok Sayak (Bengkulu)

Bakar Gunung Api atau Ronjok Sayak dari Bengkulu merupakan tradisi yang dilakukan dengan membakar batok kelapa yang ditumpu menggunung lalu dibakar dan dilakukan pada malam takbiran atau malam ke-27.

Menurut kepercayaan, tradisi Lebaran Ronjok Sayak sudah dilaksanakan sejak ratusan tahun silam.

Masyarakat Bengkulu percaya jika api merupakan penghubung antara manusia dan leluhur. Pelaksanaan tradisi Ronjok Sayak berjalan hikmat, dibarengi dengan doa-doa yang dipanjatkan selama proses pembakaran batok kelapa.

Biasanya, tradisi Ronjok Sayak ini dilakukan setelah melaksanakan Shalat Isya pada 1 Syawal.

Bedulang (Bangka)

Bedulang dari Bangka merupakan tradisi yang dilakukan setelah shalat ied di Hari Raya Idul Fitri, salam-salaman lalu kumpul lagi untuk makan bersama di halaman masjid. Makanan dengan berbagai menu ditutup dengan tudung saji.

Batobo (Riau)

Batobo dari Riau merupakan tradisi yang dilakukan saat perantau kembali ke kampung halamannya yang disuguhi sambutan khusus. Seperti pahlawan, para rombongan pemudik diarak dengan menggunakan rebana melintasi persawahan dan menuju tempat berbuka puasa bersama.

Tradisi ini bisa dijadikan ajang silaturahmi pelepas rindu antara perantau dengan keluarga di kampung halamannya.

Grebeg Syawal (Yogyakarta)

Grebeg Syawal dari Yogyakarta merupakan tradisi berupa tumpukan yang menggunung ini berisi hasil bumi yang diiringi oleh pasukan Keraton Yogyakarta.

Acara ini dilakukan pada saat menjelang 1 Syawal. Grebeg Syawal dianggap sebagai wujud syukur setelah melewati bulan Ramadhan. Tradisi ini sudah dilaksanakan sejak abad ke-16 silam.

Ngadongkapkeun (Banten)

Ngadongkapkeun dari Banten merupakan tradisi yang dilakukan setelah shalat Idul Fitri, ucapan persembahan doa sebagai rasa syukur yang dilanjutkan dengan sungkeman.

Ngejot (Bali)

Ngejot dari Bali merupakan tradisi yang dilakukan dengan memberikan makanan kepada para tetangga sebagai rasa terima kasih. Makanan yang diberi kepada tetangga sudah dalam bentuk siap saji, atau seperti kue serta buah-buahan.

Baca Juga: Penuh Nostalgia, Berikut 8 Macam Makanan Melegenda yang Wajib Ada saat Lebaran

Perang Topat (Lombok)

Perang Topat atau “perang ketupat” dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), ini merupakan tradisi yang dilakukan setelah enam hari Idul Fitri dengan saling melempar ketupat.

Konon, tradisi saling melemparkan ketupat ini adalah simbol kerukunan antar umat Hindu dan Islam yang hidup berdampingan di Lombok.

Binarundak (Sulawesi Utara)

Binarundak dari Sulawesi Utara merupakan tradisi masyarakat Motoboi Besar dalam menyambut Lebaran.

Tradisi ini dilakukan dengan membuat atau memasak nasi jaha secara bersama sama yang dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut setelah Hari Raya Idul FItri.

Nasi Jaha adalah makanan khas Sulawesi Utara yang berbahan dasar beras dan dimasak dalam batang bambu, yang memiliki perpaduan rasa gurih dari santan serta jahe yang cukup kuat.

Menurut kepercayaan, tradisi Binarundak dalam menyambut Lebaran merupakan sarana silaturahmi terhadap sesama, sekaligus sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.

Festival Meriam Karbit (Kalimantan Barat)

Festival Meriam Karbit dari Kalimantan Barat merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat sebagai bentuk pengingat kepada warga akan keberanian dan menumbuhkan semangat kebersamaan.

Festival menyambut Lebaran yang terkenal meriah ini digelar selama tiga hari berturut-turut.

Festival dimulai sejak sebelum, sesaat, dan sesudah Lebaran. Menariknya, Festival Meriam Karbit tak hanya menjadi tradisi Lebaran saja.

Melainkan, juga menjadi warisan budaya yang kental dengan nilai historis karena berkaitan dengan sejarah berdirinya Kota Pontianak. (aris-mg-pnm/kid)

Editor : Nur Wachid
#lebaran #ramadhan #hari raya #tradisi #sambut lebaran #idul fitri