Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Momentum Nuzulul Qur’an, Simak Bedakan Istilah Nuzul, Inzal, dan Tanzil Berikut

Nur Wachid • Sabtu, 15 Maret 2025 | 19:25 WIB
Mempelajari tentang perbedaan Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar
Mempelajari tentang perbedaan Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar

Jawa Pos Radar Lawu - Memperingati peristiwa Nuzulul Qur’an, ada tiga kata yang sering kali diucapkan yakni, nuzul, inzal, dan tanzil.

Dari ketiga kata tersebut masing masing memiliki akar kata yang sama dari tiga huruf, yaitu nun, za’, dan lam. Tapi apakah ketiganya punya arti yang sama ataukah berbeda?

Makna Kata Nuzul

Nuzul merupakan bentuk masdar dari fi’il (kata kerja) nazala-yanzilu-nuzul. Kata tersebut memiliki arti turunya sesuatu, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Faris dalam kitabnya sebagai berikut :

Artinya : “Nazala, nun, za’, dan lam, merupakan kata yang shahih menunjukkan makna turunnya sesuatu.” (Ibnu Faris, Maqayisul Lughah, [Darul Fikri:1979], juz V, halaman 147)

Contoh, orang turun dari tunggangannya disebut nuzul. Air hujan dari langit diistilahkan dengan nuzul.

Nazala dalam bahasa Arab yang termasuk dalam kategori fi’il yang tidak membutuhkan objek atau dikenal dengan sebutan fi’il lazim.

Susunannya hanya cukup dengan subjek dan predikat atau kata kerja (fi’il) dan pelakunya (fa’il)

Makna Kata Inzal

Inzal, berakar sama dengan nuzul tapi bertambahi dengan huruf alif didepannya (fi il tsulatsi mazid bi harfin), anzala, yunzilu, inzalan. Artinya menurunkan atau menjadikannya turun.

Artinya : “Anzala-abzala-inzalan : orang yang menjadikan sesuatu turun.” (Kamus Al-Muhith).

Baca Juga: Shabrina Leanor Tampil Magis di Spektakuler Show 7 Indonesian Idol 2025, Rossa: Kamu Itu Komplit Banget

Kata anzala masuk dalam kategori fi’il yang membutuhkan objek atau muta’addi, sehingga tidak cukup dengan subjek dan predikat atau kata kerja dan pelakunya saja, melainkan juga butuh objek (maf’ul bih).

Karenanya, dalam surat Al-Qadr ayat 1 kata tersebut digunakan dan Al-Qur’an menjadi objeknya.

Artinya : “Sesungguhnya kami telah menurunkan (Al-Qur’an) pada LailatulQadar.

Makna Kata Tanzil

Kata tanzil sama dengan dua kata sebelumnya, memiliki asal kata yang sama. Namun, kata tanzil merupakan masdar dari nazzala-yunazzilu-tanzilan yang memiliki arti menurunkan.

Terdapat tambahan huruf za’ sehingga di tasyidid. Kata ini juga tergolong kata kerja yang butuh pada objek atau muta’addi.

Dalam kitab Amsilat At-Tashriffiyah dijelaskan, salah satu faedah dari kata kerja yang ber wazan seperti fa’ala ialah lit taksir, menunjukkan pekerjaan yang banyak berulang kali dilakukan.

Dengan begitu, tanzil berarti penurunan yang dilakukan berulang kali. (Maksmum bin Ali, Amtsilat At-Tashrifiyyah).

Al-Qur’an juga menggunakan kata ini dalam menyebutkan peristiwa turunnya. Tepatnya pada surat Al-Isra ayat 106.

Artinya : “Al-Qur’an kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau (Nabi Muhammad) membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan dan kami benar-benar menurunkannya.”

Baca Juga: 8 Hal Seru yang Bisa Kamu Lakukan di Bukit Samboja, Cocok untuk Healing!  

Titik Perbedaan Kata Nuzul, Inzal, dan Tanzil

Kata nuzul merupakan masdar dari fi’il lazim, sedangkan dua kata setelahnya yakni inzal dan tanzil sama-sama masdar dari fi’il muta’addi.

Al-Qur’an ketika mendeskripsikan peristiwa turunnya Al-Qur’an tidak memakai kata nuzul, melainkan dengan inzal dan tanzil.

Mudahnya, kata nuzul jika dikaitkan dengan Al-Qur’an berarti “turunya Al-Qur’an” tanpa ada keterangan siapa yang menurunkannya.

Sedangkan kata inzal dan tanzil, mengindikasikan adanya pihak yang menurunkan Al-Qur’an yakni Allah SWT. Opsi pemilihan redaksi ini menjelaskan, Al-Qur’an memang berasal dari Allah, bukan dari pihak lain.

Adapun malaikat Jibril adalah malaikat yang diberi mandat untuk menyampaikan wahyu Al-Qur’an tersebut kepada Nabi Muhammad SAW sebagai penerima wahyu. Dalam surat Asy-Syua’ra ayat 192-194 difirmankan :

Artinya : “Sesungguhnya Al-Qur’an benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Ia dibawa turun oleh Ruhulamin (Jibril). (Diturunkan) ke dalam hatimu (Nabi Muhammad) agar engkau menjadi salah seorang pemberi peringatan.

Baca Juga: Sederet Daya Tarik Bukit Samboja, Spot Sunset Terbaik hingga Padang Rumput Instagrammable  

Tugas melalui ayat ini, kata tanzil digunakan untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an bersumber dari Allah sebagai tuhan. Sedangkan Jibril diberi mandat untuk menyampaikan kepada Nabi Muhammad.

Antara kata inzal dan tanzil terdapat perbedaan dari cara penurunannya. Inzal masih dalam konteks yang umum, berbeda dengan tanzil yang menyampaikan tata cara turunnya secara berangsur-angsur.

Artinya : “Perbedaan antara inzal dan tanzil dalam menyifati Al-Qur’an dan malaikat adalah tanzil khusus mengisyaratkan penurunan Al-Qur’an secara bertahap (berangsur-angsur).” (Ragib Al-Asfihani, Mufradat fi Gharibil Qur’an, [Damaskus, Darul Qalam: 1412 H] halaman 799)

Berangkat dari sini pula, para ulama di antaranya Syekh Ali As-Shabuni membagi dua tata cara bagaimana Al-Qur’an turun.

Artinya : “Al-Qur’an memiliki dua cara penurunan. Pertama, dari Lauh Mahfuz ke langit dunia (sekaligus) di malam Lailatul Qadar. Kedua, dari langit dunia turun ke bumi (secara bertahap) selama 23 tahun.” (As-Shabuni, At-Tibyan fi’ Ulumil Qur’an, [Teheran: Dar Ihsan], halaman 32)

Pertama, Al-Qur’an turun sekaligus dari Lauh Mahfuz ke Baitul Izzah langit dunia. Hal ini terjadi di bulan Ramadhan tepantnya pada malam Lailatul Qadar.

Baca Juga: Ingin ke Puncak Joglo Wonogiri? Ini Rute Lengkap dan Tips Agar Perjalanan Lancar!  

Keseluruan Al-Qur’an ketika menyebutkan teknis penurunanya dengan istilah inzal. Menguatkan pendapat itu, Syekh Ali As-Shabuni menampilkan beberapa ayat, yaitu : surat Ad-Dukhan ayat 3, Al-Qadr ayat 1, dan Al-Baqarah ayat 185.

Artinya : “Sesungguhnya kami (mulai) menurunkannya pada malam yang diberkahi (Lailatulqadar).” (Qs Ad-Dukhan : 3)

Artinya : “Sesungguhnya kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar.” (Qs Al-Qadr: 1)

Artinya : “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (Qs Al- Baqarah: 185)

Ketiga ayat secara eksplisit menggunakan lafal inzal untuk mendeskripsikan turunnya Al-Qur’an sekaligus ke langit dunia dalam satu malam.

Kedua, Al-Qur’an turun secara bertahap kepada Nabi Muhammad. Hal ini berlangsung selama kurang lebih 23 tahun sejak Nabi saw diutus hingga wafatnya.

Redaksi yang digunakan untuk menggambarkan tahap ini dengan menggunakan lafal tanzil. Hal itu dikuatkan dengan dua ayat, yaitu Al-Furqan ayat 32 dan Al-Isra ayat 106. (As-Shabuni, 34)

Artinya : “Al-Qur’an kami turunkan berangsur-angsur agar engkau (Nabi Muhammad) membacakannya kepada manusia secara perlahan-lahan dan kami benar-benar menurunkannya.” (Qs Al-Isra : 106)

Berikut penjelasan, antara nuzul, inzal, dan tanzil meskipun memiliki akar kata yang sama, ketiganya memiliki perbedaan, mulai secara bahasa hingga penggunaannya dalam Al-Qur’an.

Perbedaanya bisa dilihat bahwa Al-Qur’an menggunakan kata inzal dan tanzil guna membuktikan bahwa Al-Qur’an memang murni kalam Allah.

Juga cara penurunan Al-Qur’an. Inzal digunakan untuk turun sekaligus, sedangkan tanzil untuk turun secara berangsur-angsur bertahap. (aris-mg-pnm/kid)

Editor : Nur Wachid
#ramadhan #perbedaan #lailatul qadar #memperingati #makna #Peristiwa #Nuzulul Qur'an