Jawa Pos Radar Lawu – Jawa Pos Radar Lawu – Dibalik kemegahan Keraton Surakarta Hadiningrat, tersimpan beragam tradisi dan kepercayaan yang sarat makna spiritual.
Salah satu yang paling menarik perhatian adalah larangan bagi Raja Surakarta untuk melewati Plengkung Gading semasa hidupnya.
Bagi masyarakat Jawa, hal ini bukan sekadar adat turun-temurun, melainkan sebuah keyakinan yang mengandung simbol kehidupan dan kematian yang amat mendalam.
Plengkung Gading sendiri merupakan sebuah gerbang kuno yang terletak di kawasan menuju makam raja-raja Imogiri, tempat peristirahatan terakhir para penguasa Mataram dan keturunannya.
Dalam pandangan budaya Jawa, gerbang ini bukan hanya pintu fisik, melainkan juga batas spiritual antara dunia fana dan alam baka.
Melalui Plengkung Gading, arwah raja diyakini menapaki perjalanan terakhirnya menuju keabadian.
Oleh sebab itu, Raja Surakarta dilarang keras melewati Plengkung Gading saat masih hidup. Larangan ini bukan tanpa alasan.
Masyarakat percaya bahwa gerbang tersebut hanya boleh dilalui oleh sang raja ketika telah mangkat atau meninggal.
Melintasinya semasa hidup dianggap sebagai pertanda buruk seolah menantang takdir dan mempercepat ajal.
Keyakinan ini begitu kuat hingga tidak ada seorang pun raja yang berani melanggarnya, karena diyakini akan membawa kemalangan besar.
Secara filosofis, larangan ini mencerminkan pandangan hidup orang Jawa tentang keseimbangan antara dunia dan akhirat.
Plengkung Gading menjadi simbol peralihan dari kehidupan menuju kematian, dan raja sebagai wakil dewa di bumi hanya akan melewati gerbang tersebut ketika tugasnya menjaga harmoni dunia telah usai.
Selain itu, penghormatan terhadap Plengkung Gading juga menjadi bentuk rasa bakti terhadap leluhur dan tatanan adat yang telah diwariskan turun-temurun.
Hingga kini, para abdi dalem dan masyarakat sekitar tetap menjunjung tinggi kepercayaan tersebut.
Saat prosesi kerajaan menuju Imogiri, raja selalu mengambil jalur lain, sementara Plengkung Gading dibiarkan tertutup hingga tiba saatnya dilalui oleh jenazah sang raja.
Gerbang ini seolah menjadi saksi bisu perjalanan spiritual terakhir seorang penguasa dari dunia fana menuju alam baka.
Bagi masyarakat Jawa, larangan ini bukan sekadar mitos atau kepercayaan lama.
Ia adalah bentuk penghormatan terhadap keseimbangan hidup, simbol kesucian, dan bukti bahwa adat istiadat keraton masih terjaga dalam setiap napas kehidupan bangsanya.
Melalui Plengkung Gading, kita diajak memahami bahwa kematian bukanlah akhir, melainkan pintu menuju keabadian, dan setiap langkah di dunia ini adalah bagian dari perjalanan menuju keseimbangan yang sempurna. (win)
Editor : Riana M.