Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Fakta Rombongan Jubah Putih di Puncak Gunung Lawu, Ziarah Sunan Gunung Lawu? Begini Penjelasan Perhutani!

Aprilita Sari • Senin, 14 Juli 2025 | 20:37 WIB
Viral rombongan jubah putih di puncak Gunung Lawu.
Viral rombongan jubah putih di puncak Gunung Lawu.

MAGETAN, Jawa Pos Radar Lawu – Misteri kerumunan berpakaian putih yang viral di Puncak Gunung Lawu akhirnya terungkap.

Pihak Perhutani memastikan bahwa rombongan tersebut adalah kelompok ziarah tahunan dari Nahdlatul Ulama (NU), bukan bagian dari aliran sesat seperti yang ramai dispekulasikan warganet.

Video berdurasi 12 detik yang menunjukkan puluhan orang berpakaian putih sedang menjalankan ritual di area Tugu Hargo Dumilah, puncak Gunung Lawu, sempat memicu kontroversi sejak tayang di TikTok pada Jumat (11/7/2025).

Rekaman itu menampilkan suasana sakral dengan barisan laki-laki bersorban dan perempuan bermukena putih yang mengelilingi tugu sambil melantunkan doa.

Namun setelah ditelusuri oleh pihak Perhutani, kegiatan tersebut bukanlah hal baru di kawasan Lawu.

Mulyadi, Asisten Perhutani (Asper) BKPH Lawu Selatan, menyebutkan bahwa rombongan berasal dari Desa Sumberbanggi, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Purwodadi, Jawa Tengah.

“Setelah kami hubungi ketua rombongan atas nama Pak Rohmat, beliau menyampaikan bahwa kegiatan tersebut adalah ziarah rutin tahunan untuk menghormati Sunan Gunung Lawu,” jelas Mulyadi, Senin (14/7/2025).

Sudah 14 Tahun, Naik Jalur Cemoro Sewu

Rombongan sekitar 100 orang itu naik ke Gunung Lawu melalui jalur Cemoro Sewu, Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan, Magetan.

Mereka mulai mendaki pada Kamis (10/7/2025), bermalam di puncak, dan melanjutkan kegiatan ziarah pada Jumat pagi hingga siang.

Kegiatan ziarah itu berisi doa bersama, pembacaan tawasul, dan dilanjutkan dengan pelaksanaan Salat Jumat di sekitar Tugu Hargo Dumilah.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Janji Bantuan Seragam Siswa hingga Buku untuk Siswa Miskin di Jabar, Gratis! 

Baca Juga: Prabowo Buka Akses Mudah ke 29 Negara Eropa, WNI Mudah Dapat Visa Schengen Multi-Entry, Ini Daftar Lengkap Negaranya!

Karena jumlah peserta cukup banyak, salat berjemaah pun dilakukan di area terbuka dengan penuh khidmat.

“Kegiatan mereka rutin dilakukan setiap tahun, ini sudah yang ke-14 kalinya, jadi sudah berlangsung selama 14 tahun berturut-turut,” imbuh Mulyadi.

Baju Putih Hanya Dipakai di Puncak

Menanggapi kehebohan soal pakaian serba putih, Mulyadi menjelaskan bahwa busana itu dikenakan bukan dari bawah, melainkan setelah tiba di puncak sebagai simbol kesucian dalam berdoa.

“Mereka mengenakan pakaian putih bersih seperti untuk salat. Perempuan memakai mukena putih, laki-laki mengenakan jubah dan sorban putih. Itu baru dipakai sesampainya di puncak,” terang Mulyadi.

Pihak Perhutani berharap penjelasan ini dapat meluruskan kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat.

Masyarakat diimbau untuk tidak gegabah menuduh suatu kegiatan spiritual sebagai aliran menyimpang tanpa dasar yang jelas.

Dukung Kearifan Lokal, Jaga Alam Gunung Lawu

Perhutani juga menekankan pentingnya menghormati kearifan lokal serta menjaga kelestarian Gunung Lawu.

Aktivitas spiritual seperti ziarah dan tirakat memang kerap dilakukan di gunung-gunung Jawa, terutama saat memasuki bulan Suro dalam kalender Jawa.

“Kami berharap kegiatan seperti ini tetap dilakukan dengan memperhatikan aspek konservasi dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan,” tutup Mulyadi. (ril/kid)

Editor : Nur Wachid
#rombongan #jubah putih #gunung lawu #nahdlatul ulama #puncak #nu #fakta