Jawa Pos Radar Lawu – Di tengah perbincangan hangat warganet soal patung biawak di Wonosobo, nama Rejo Arianto mendadak jadi sorotan.
Sosok seniman lokal ini menjadi perbincangan setelah hasil karyanya sebuah patung biawak berukuran besar menjadi viral dan menuai beragam reaksi di media sosial.
Meski banyak yang mengkritik tampilan visual patung tersebut, tak sedikit pula yang mengapresiasi ketulusan dan kreativitas dari tangan Rejo.
Rejo Arianto bukanlah nama baru di dunia seni rupa Wonosobo.
Ia dikenal sebagai seniman yang kerap mengerjakan proyek-proyek berbasis visual art untuk kebutuhan publik, termasuk relief dan patung tematik yang kerap dipasang di ruang-ruang terbuka.
Meski tidak memiliki latar belakang akademik formal di bidang seni, Rejo tumbuh dengan keterampilan yang ia asah sendiri dari pengalaman dan ketekunannya berkarya selama bertahun-tahun.
Patung biawak yang kini berdiri di kawasan taman Kota Wonosobo dikerjakan dalam waktu cukup singkat dan dengan anggaran yang terbatas.
Dalam sebuah wawancara, Rejo menyebut bahwa proyek ini dikerjakan dengan hati, bukan semata-mata karena komersial.
Ia menjelaskan bahwa desainnya memang dibuat mengikuti bentuk reptil khas tersebut, namun dengan sentuhan lokal yang sederhana.
Yang menarik, di balik semua kritik yang datang, Rejo justru menanggapinya dengan tenang.
Ia mengaku tidak merasa tersinggung dengan komentar miring yang beredar, karena baginya seni adalah soal ekspresi dan keberanian untuk tampil beda.
Baca Juga: Hasil 7 Wakil Jawa Timur Berlaga di Liga 4 Nasional Matchday ke 2: 4 Menang, 1 Imbang, 2 Tumbang
Dalam be berapa kesempatan, ia bahkan menyebut bahwa viralnya patung tersebut justru menjadi pintu pembuka bagi seniman daerah untuk lebih dikenal luas.
Karya Rejo mungkin tidak sempurna di mata semua orang, namun keberaniannya untuk berkarya dan menghadirkan identitas lokal patut dihargai.
Patung biawak itu sendiri kini menjadi landmark yang unik entah sebagai objek kritikan atau hiburan.
Namun satu hal yang pasti, Rejo Arianto telah menunjukkan bahwa seni bukan melulu soal estetika mewah, tapi juga keberanian untuk berkarya di tengah keterbatasan.
Melalui kisah Rejo, kita diingatkan bahwa setiap seniman memiliki cerita, proses, dan perjuangannya masing-masing.
Dan dalam dunia seni, justru keberagaman gaya dan pendekatan itulah yang membuatnya hidup dan terus berkembang. (Win)