Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Nama Nyoman dan Ketut Terancam Punah, Pemprov Bali Siapkan Insentif untuk Selamatkan Tradisi  

Muhammad Aditya Pangestu • Sabtu, 8 Maret 2025 | 23:57 WIB
Gubernur Koster menyampaikan pidato perdananya di Ruang Sidang Utama DPRD Provinsi Bali, Denpasar, pada Selasa (4/3).
Gubernur Koster menyampaikan pidato perdananya di Ruang Sidang Utama DPRD Provinsi Bali, Denpasar, pada Selasa (4/3).

Jawa Pos Radar Lawu - Gubernur Bali I Wayan Koster mengungkapkan kekhawatirannya terhadap semakin langkanya nama tradisional Nyoman dan Ketut di Bali. 

Menurutnya, jika tidak ada langkah konkret, nama-nama tersebut bisa saja hanya menjadi bagian dari sejarah. 

Sebagai respons terhadap kondisi ini, Pemprov Bali tengah merancang insentif bagi mereka yang menamai anak ketiga dengan Nyoman dan anak keempat dengan Ketut. 

Namun, Koster menegaskan bahwa insentif ini bukan dalam bentuk uang tunai, melainkan berbagai program yang sedang dirumuskan, seperti bantuan di bidang pendidikan dan kesehatan. 

Pemerintah Provinsi Bali awalnya menyoroti angka pertumbuhan penduduk di Bali yang cenderung melambat hanya 0,66 persen per tahunnya. 

Menurut Politisi PDI Perjuangan ini, kebijakan Keluarga Berencana (KB) dengan slogan "Keluarga Berkualitas: 2 Anak Lebih Sehat" menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan semakin jarangnya penggunaan nama Nyoman dan Ketut. 

Pasalnya, dalam budaya Bali, Nyoman diberikan kepada anak ketiga, sedangkan Ketut untuk anak keempat. 

Dengan banyak keluarga yang membatasi jumlah anak hanya dua, penggunaan kedua nama ini pun ikut berkurang drastis. 

"Ini bagian dari upaya kita menjaga budaya Bali. Nama Nyoman dan Ketut hampir punah di Bali. Kalau tidak dijaga, nanti nama ini hanya ada di museum," ujar Koster di Denpasar, Selasa (4/3). 

Lebih lanjut, ia memastikan bahwa insentif yang diberikan bukan dalam bentuk uang, melainkan dukungan dalam berbagai aspek kehidupan. 

"Nanti insentifnya macam-macam, ada pendidikan, ada kesehatan. Bukan uang, tapi pasti ada. Tenang saja, sekarang sedang dirumuskan," jelasnya. 

Ia juga menambahkan bahwa program ini bertujuan untuk mendorong keluarga Bali agar tetap mempertahankan tradisi dengan memiliki empat anak, namun dengan catatan tetap dalam satu pernikahan. 

"Nanti akan diberikan insentif supaya orang mau melahirkan empat anak, tapi tentu saja tanpa menambah istri," tegas Koster. 

Dengan adanya insentif ini, Koster sebagai Gubernur Bali berharap dapat menjaga keberlangsungan tradisi penamaan khas Bali serta mempertahankan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. (*)

Editor : Riana M.
#Keluarga Berencana (KB) #nama #NYOMAN #bali #terancam punah #ketut