MADIUN, Jawa Pos Radar Lawu - Kecemasan melanda warga Desa Uteran, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun, akibat perilaku agresif seorang mantan atlet tinju, Prasetyo (52).
Prasetyo, yang dikenal pernah mengikuti program pelatihan tinju di tingkat nasional, kini harus dievakuasi ke UPT Rehabilitasi Sosial Bina Laras (RSBL) Kediri pada 31 Juli, akibat gangguan jiwa yang dideritanya selama 14 tahun terakhir.
Prasetyo, yang sebelumnya merupakan atlet petinju berprestasi, kini kerap menunjukkan perilaku yang mengkhawatirkan, seperti berlarian di sekitar desa sambil membawa senjata tajam.
Kondisi ini membuat warga dan keluarganya resah. "Prasetyo sering datang ke toko-toko dan meminta uang dengan membawa pisau, membuat warga merasa tidak aman," ujar perangkat Desa Uteran, Rumantyo.
Proses evakuasi Prasetyo berlangsung cukup dramatis. Ketika petugas Dinas Sosial dan pemerintah desa mencoba membawanya ke mobil ambulans, Prasetyo sempat menolak dan menunjukkan sikap agresif.
Dia bahkan sempat membawa silet kecil dan keluar dari mobil dengan alasan ingin buang air kecil.
Setelah berbagai upaya persuasi, Prasetyo akhirnya setuju untuk ikut, meskipun terus mengeluhkan ketidaknyamanannya.
Agung Budiarto, Plt. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Madiun, menjelaskan bahwa Prasetyo sebelumnya telah mendapatkan perawatan di RSJ Ngawi dan Kediri.
Namun, kondisinya kembali memburuk, dan dia sangat bergantung pada obat-obatan.
"Untuk memastikan dia mendapatkan perawatan yang diperlukan, kami memutuskan untuk membawanya kembali ke RSBL Kediri," ungkap Agung.
Baca Juga: Heboh! Para Anak Miliarder Turut Serta Berlaga di Olimpiade Paris 2024, Siapa Saja Mereka?
Situasi semakin kompleks karena Prasetyo tinggal bersama adiknya, yang merasa kewalahan mengurus Prasetyo sambil bekerja.
Adiknya, yang merasa terancam dengan perilaku Prasetyo yang kerap membawa senjata tajam, akhirnya meminta bantuan kepada Dinas Sosial.
"Kami berharap, dengan perawatan yang tepat, Prasetyo dapat pulih dan kembali hidup normal," tambah Agung.
Dengan kondisi yang memerlukan perhatian khusus, Dinas Sosial dan warga setempat berharap langkah evakuasi ini dapat memberikan Prasetyo perawatan yang diperlukan untuk pemulihan kesehatan mentalnya.
Peristiwa ini juga mengingatkan pentingnya dukungan keluarga dan masyarakat dalam menangani individu dengan gangguan kesehatan mental, serta perlunya fasilitas dan tenaga medis yang memadai untuk penanganan yang lebih baik.
Kehadiran Prasetyo di RSBL Kediri diharapkan akan membantu menstabilkan kondisinya dan mengurangi risiko yang mungkin ditimbulkan oleh perilaku agresifnya.
Semoga dengan perawatan yang intensif dan dukungan dari pihak keluarga serta masyarakat, Prasetyo dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik. (ryu/kid)