Jawa Pos Radar Lawu – Menjelang Pilkada 2024, atmosfer di beberapa wilayah di Tanah Air perlahan mulai memanas. Termasuk di Kabupaten Madiun, Jawa Timur.
Seperti yang diketahui Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) akan digelar pada November 2024 mendatang.
Di Madiun sendiri atmosfer politik mulai menghangat, dimana pasangan Maidi-Inda Raya Ayu Miko Saputri (MaDa) disebut-sebut mungkin pecah kongsi di tengah jalan.
Kemarin (18/4), Guru Besar Universitas PGRI Madiun Prof Parji ikut menanggapi isu yang beredar tersebut. Dia menilai potensi MaDa pisah bisa saja terjadi seiring perkembangan dinamika politik yang ada saat ini.
‘’Bisa saja tetap (berpasangan, Red) atau masing-masing mengambil jalan yang berbeda. Semua kemungkinan bisa terjadi,’’ katanya.
Parji mengungkapkan ada banyak faktor yang mempengaruhi mencuatnya kabar MaDa pecah kongsi.
Di antaranya, wakil wali kota (wawali) berhasrat ingin menjadi kepala daerah, koalisi partai politik (parpol), dan hasil pemilihan presiden (pilpres).
‘’Isu (MaDa bakal pecah kongsi) memang santer terdengar. Tapi, belum bisa dikonfirmasi secara pasti. Akan terlihat jelas menjelang pendaftaran paslon (pasangan calon) wali kota-wakil wali kota pada Agustus nanti,’’ terang mantan Rektor Unipma itu.
Selain itu, menurutnya, disharmonisasi MaDa bukan menjadi faktor penyebab mereka bakal pisah.
Sebab, dia menilai hubungan keduanya sampai saat ini tetap solid. Bahkan, Parji menyebut tidak ada track record bahwa Maidi-Inda Raya terlibat konflik terbuka.
‘’Ya, sampai saat ini melihatnya tidak ada konflik terbuka antara wali kota dengan wakil wali kota. Semisal kalau mereka nanti tidak bersama lagi (di pilkada 2024) pasti banyak faktor yang secara kasat mata tidak bisa diuraikan,’’ terangnya.
Bagaimana dengan peta politik pemilihan wali kota (pilwakot) tahun ini?
Parji menilai Maidi sebagai bakal calon wali kota (bacawali) petahana cukup kuat untuk bisa kembali terpilih. Apalagi, yang bersangkutan sudah mendapatkan dukungan dari sejumlah parpol.
‘’Nah, nanti kita lihat saja. Apakah parpol lain akan masuk dalam kubu petahana atau masih memungkinkan mengusung paslon lain di pilkada nanti,’’ ujarnya.
Di samping itu, Parji memprediksi ada kemungkinan paslon lain yang maju dari jalur perseorangan. Terlebih sepanjang pilwakot dihelat ternyata selalu diikuti oleh pasangan independen.
‘’Kalau tidak keliru ada enam paslon dalam pilkada 2013 lalu. Tiga di antaranya kan independen,’’ ungkap Parji yang saat itu ikut kontestasi sebagai cawali berpasangan dengan Inda Raya.
Terpisah, pengamat politik dari Universitas Merdeka (Unmer) Madiun Nunik Hariyani menilai potensi pecah kongsi antar Maidi-Inda Raya dalam pilkada 2024 bisa saja terjadi.
Faktornya ketidakcocokan hingga dinamika politik.
‘’Atau bisa jadi karena terpaksa menjadi pasangan dalam pilkada sebelumnya karena hitung-hitungan politik,’’ ungkap dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unmer Madiun itu.
Meski pecah kongsi merupakan hal biasa dalam pilkada, tetapi Nunik menilai bakal berdampak besar pada percaturan politik di Kota Madiun.
‘’Politik itu dinamis dan kompleks. Pecah kongsi pasti berdampak besar dalam kontestasi pilkada nanti,’’ jelasnya.
Menurutnya, apakah pasangan MaDa bisa lanjut atau tidak tergantung arah dukungan parpol.
Sebab, pada pilwakot nanti tidak ada parpol yang bisa mengusung paslon sendiri.
‘’Koalisi parpol dapat memengaruhi strategi positioning calon. Jadi, peta dukungan parpol sangat berpengaruh demi kemenangan di pilkada,’’ terang Nunik. (ggi/her)
Editor : Riana M.