PONOROGO, Jawa Pos Radar Lawu - Kebutuhan bahan pokok (bapok) layaknya emas di masa sekarang.
Buktinya, gerakan pangan murah (GMP) di Kelurahan Patihan Wetan, Babadan diserbu warga kemarin (2/4).
Warga rela mengantre dan menunggu berjam-jam demi mendapatkan beras, telur, hingga minyak dengan harga miring.
Wiji Lestari menyeka bulir keringat di dahinya. Tenggorokannya naik turun di bawah terik matahari.
Sudah berjam-jam dia mengantre, namun tak kunjung dapat jatah. Padahal dia rela datang pagi-pagi, bahkan sejam sebelum GPM dibuka.
Wiji turut mengajak suami dan anaknya mangantre agar dapat jatah lebih banyak. ''Beli beras, telur, dan terigu,'' ungkapnya.
Setelah menunggu lumayan sabar, Wiji mendapatkan giliran. Harga bapok di GPM tersebut dijual di bawah pasaran.
Beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) misalnya, satu kantong seberat lima kilogram dibanderol Rp 51 ribu.
Pun telur ayam Rp 24 ribu per kilogram, sementara Minyak Kita Rp 14 ribu per liter. ''Kalau di pasaran lebih mahal, bahkan beras sampai Rp 60 ribu dengan merek sama,'' ujarnya.
Dalam GPM tersebut, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Ponorogo menggelontor 10 ton beras SPHP, 1 ton telur, 1.200 kantong Minyak Kita, serta beberapa bapok lain.
Harjono, Anggota TPID Ponorogo menyebut pasokan bapok tersebut ludes kurang dari tiga jam.
''Kami siapkan bahan pokok murah demi menekan inflasi daerah menjelang lebaran ini,'' kata Harjono.
Operasi pangan tersebut ditargetkan mampu menekan harga kebutuhan bapok. Minimal menjangkau kalangan masyarakat menengah ke bawah.
Selain operasi GPM, pasokan serupa juga disebar TPID di sejumlah toko modern dan pasar tradisional Ponorogo.
''Kami pastikan stok aman, baik beras ataupun kebutuhan pokok lainnya,'' tegasnya. (gen/kid)
Editor : Nur Wachid