Lukisan kaligrafi menjadi jalan hidup bagi Djunaedi Sukarta. Mantan Wakil Ketua DPRD Ponorogo 1999-2004 asal Kelurahan Cokromenggalan itu produktif melahirkan karya seni. Karyanya dipajang di berbagai acara pameran, mulai Surakarta, Jogjakarta, hingga Jakarta.
GORESAN kuas bergerak gemulai membentuk corak tulisan arab itu. Si empunya, Djunaedi Sukarta tampak menghayati setiap coretan.
Berpadu-padan dengan tarikan nafasnya. Perlahan lukisan membentuk tulisan Sawabikul himam laa yakhruqu aswaror aqdaar.
Setinggi-tingginya impian manusia tidak akan bisa melawan takdir Allah SWT, begitulah kiranya terjemahan tulisan yang dikutip Djunaedi dari Kitab Al Hikam karangan Syekh Ibnu Atha'illah.
Menahun sudah, Djunaedi menggeluti dunia lukis kaligrafi. Persisnya, sejak kuliah di Sekolah Tinggi Seni Republik Indonesia (STSRI) Asri (sekarang ISI Jogjakarta, Red).
Berawal dari coba-coba, mahasiswa seni patung itu kepincut beralih media. ‘’Saat itu diminta dosen coba melukis dan ikut lomba, dan keterusan sampai sekarang,’’ ungkapnya.
Terjun ke dunia kaligrafi, pria 70 tahun itu mengaku seni miliki tantangan tersendiri.
Selain, harus mampu merangkai tulisan arab menjadi indah, tantangan muncul saat kaligrafi harus dibuat timbul demi memunculkan aksen tersendiri.
‘’Kalau untuk timbul biasanya dibantu pakai dempul, dan medianya harus pas akar terlihat indah,’’ tambahnya.
Mantan Wakil Ketua DPRD Ponorogo periode 1999-2004 itu telah melahirkan puluhan seni kaligrafi.
Idenya muncul dari mana saja, mulai persoalan sehari-hari, hingga tercetus sekilas. Pun, karyanya berseliweran ke beragam pameran, mulai Surakarta, Jogjakarta, sampai Jakarta.
Setiap karyanya laris manis dibanderol jutaan rupiah. Apalagi di momen ramadan seperti sekarang. ‘’Saya ingin salurkan hobi, sekaligus syiar Islam lewat seni ini,’’ katanya.
Ditengah gempuran digitalisasi, Djunaedi berharap seni kaligrafi tak akan tergerus zaman.
Pintu rumahnya terbuka untuk siapa saja yang ingin mempelajari lukisan kaligrafi. ‘’Tidak membuka kursus, tapi kalau belajar tentu saya bantu,’’ ujarnya. (gen/kid)
Editor : Nur Wachid