SURABAYA, Jawa Pos Radar Lawu - Pemprov Jatim dan DPRD setempat menggodok usulan Raperda Rencana Umum Energi Daerah atau RUED tahun 2019-2050.
Raperda yang berisikan revisi atas Perda 6/2019 terkait RUED itu memuat banyak hal mengenai optimalisasi sumber daya alam, khususnya energi.
Saat Rapat Paripurna yang digelar di Gedung DPRD Jatim, Senin (18/3) lalu, Pj Gubernur Jatim Adhy Karyono mengatakan bahwa energi sangat penting untuk pembangunan berkelanjutan.
Dia secara spesifik menyinggung Gunung Lawu dan Gunung Wilis yang berada di sisi barat Jatim, khususnya Madiun Raya.
Menurutnya, potensi energi di kedua lokasi itu sangat besar.
"Energi berperan sebagai pendorong utama berkembangnya sektor lain, khususnya industri dan transportasi," katanya, mengutip dari Antara.
Adhy memaparkan Jatim memiliki beragam potensi sumber energi.
"Mulai fosil dan energi baru terbarukan. Selain itu, usaha hulu migas Jatim memiliki 16 blok wilayah kerja produksi," ungkapnya.
"Terdiri dari 8 blok wilayah kerja migas pengembangan dan 4 blok wilayah kerja migas eksplorasi," imbuh Adhy.
Terdata potensi energi berupa gas bumi di Jatim sebesar 5.377,9 Billion Cubic Feed (BCF). Sedangkan potensi minyak bumi sebesar 264,2 juta barel.
Selain itu potensi energi terbarukan sebesar 188.410 Mega Watt (MW).
Secara spesifik, energi panas bumi diproyeksikan mencapai 1.280 MW.
Lokasinya tersebar di Gunung Blawan Ijen, Ngebel Ponorogo, Gunung Pandan, Gunung Arjuno Welirang, Songgoriti, Gunung Iyang Argopuro, Gunung Lawu, dan Gunung Wilis.
Pj Gubernur Adhy juga menjelaskan panas bumi merupakan energi terbarukan yang ramah lingkungan.
"Nantinya panas bumi akan menjadi tumpuan energi terbarukan di Jatim. Targetnya sebesar 17,09 persen pada tahun 2025, lalu menjadi 19,56 persen pada 2050," katanya.
Selain itu, Adhy menandaskan, terdapat potensi energi terbarukan yang dapat dikembangkan di Jatim.
Seperti energi surya sebesar 176.390 MW, energi angin 10,200 MW, energi air 80 MW dan energi biomassa 350 MW.
"Maka Raperda ini selaras dengan kebijakan nasional pelaksanaan Transisi Energi menuju net zero emission pada tahun 2060," sebut Adhy.
"Pemerintah Provinsi Jatim berkomitmen untuk mengakselerasi dan mendukung sepenuhnya melalui pemanfaatan energi baru terbarukan atau EBT," sambungnya.
Terlebih pengembangan pembangkit EBT setiap tahun mengalami peningkatan.
Terdata jumlah kapasitas pembangkit EBT di Jatim sebesar 1.892,89 MW dengan capaian 9.96 persen. (naz)
Editor : Mizan Ahsani