MAGETAN, Jawa Pos Radar Lawu - Pemerintah melakukan berbagai cara untuk menekan angka prevalensi stunting. Cara unik dilakukan Ketua DPRD Magetan Sujatno dalam rangka menekan prevalensi stunting, yakni dengan cara mengangkat anak stunting sebagai anak asuh.
Seperti diketahui, stunting menjadi persoalan serius dalam dunia kesehatan anak di tanah air. Merujuk data Dinas Kesehatan (Dinkes) Magetan, prevalensi stunting menurun dari tahun ke tahun. Prevalensi stunting 2021 di angka 17,2 persen, turun menjadi 14,9 persen pada 2022 lalu.
Prevalensi stunting tersebut diketahui mendasar pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI). Sementara mendasar data bulan timbang, prevalensi stunting di Magetan juga mengalami penurunan.
Pada Agustus 2022 di angka 10,08 persen turun menjadi 9,13 persen pada Agustus 2023 atau angka kasusnya 2.618 kasus stunting.
Meskipun angkanya cenderung menurun, namun kasus yang ada butuh percepatan dalam hal penanganan.
Dilansir Radar Lawu dari Radar Madiun, Sujatno mengunjungi anak stunting yang diangkat menjadi anak asuhnya di Desa Ngunut, Kecamatan Parang Rabu (31/1) lalu.
Sujatno ingin memastikan bahwa anak asuhnya yang berusia 18 bulan itu ditangani oleh puskesmas dan pemerintahd desa setempat dengan baik.
''Saya memastikan penanganan stunting pada anak asuh saya baik di bulan pertama tahun ini,’’ kata Sujatno.
Setiap tiga bulan sekali, anak asuhnya tersebut mendapat evaluasi guna memonitor perkembangan tumbuh kembang.
Sujatno menambahkan, melalui cara itu percepatan penanganan stunting dapat lekas membuahkan hasil. Sehingga menurunkan angka prevalensi stunting di Magetan.
Karena itu, Sujatno berharap langkahnya tersebut dapat menumbuhkan kesadaran kolektif seluruh elemen dan masyarakat Magetan agar terjun nyata langsung dalam menangani stunting.
Menurutnya, di satu kecamatan di Magetan masih ada sekitar 180 anak stunting.
''Mereka (anak stunting, Red) perlu orang tua asuh,'' pungkasnya. (kid)
Editor : Nur Wachid