SOLO, Jawa Pos Radar Lawu - Perdagangan daging anjing disinyalir masih terjadi di wilayah Solo.
Menyusul, DPRD Kota Surakarta menyoroti persoalan perdagangan anjing di Solo masih terjadi hingga kini. Selain membutuhkan aturan untuk menuntaskan problem tersebut, legislatif menawarkan pendekatan sosiologis.
Sebagaimana disampaikan Wakil Ketua DPRD Kota Surakarta Sugeng Riyanto dikutip Radar Lawu dari ANTARA.
''Regulasi itu justru langkah terakhir,'' kata dia.
Menurutnya, pimpinan memiliki peran penting dalam melakukan pendekatan sosiologis. Bahkan, Sugeng Riyanto mengaku telah mengungkapkan langkah tersebut kepada Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka secara langsung.
Sugeng menyodorkan contoh langkah strategis yang diambil Jokowi untuk menyelesaikan persoalan pedagang kaki lima (PKL) Banjarsari tidak menggunakan regulasi. Bahkan akhirnya PKL Banjarsari berhasil dipindah ke Pasarkliwon setelah melalui pembahasan lumayan panjang.
''Tidak dengan regulasi, melainkan pendekatan sosiologis. Diajak makan, ngobrol, makan, diajak ngobrol,'' jelasnya.
''Setelah bicara santi, lepas. Diakomodasi usulan pedagang, lalu pindah,'' imbuhnya.
Sugeng Riyanto menambahkan, melalui pendekatan sosiologis justru pemindahan PKL berlangsung meriah, bahkan sampai dikirab.
''Tanpa harus mengeluarkan regulasi bahwa PKL harus bubar, kan nggak?'' tanyanya balik.
Menurut dia, Gibran seharusnya memunyai seperangkat solusi untuk menuntaskan perdagangan anjing melalui pendekatan sosiologis.
''Melibatkan person yang punya pengaruh di bidang itu. Lalu memberi support kebijakan alih profesi bagi pedagang daging anjing. Saya kira dewan pasti setuju,'' ujarnya. (antara/kid)
Editor : Nur Wachid