Jawa Pos Radar Lawu - Pengajian Gus Iqdam di Desa Madigondo, Takeran, Magetan full ST Nyell Selasa (9/1).
Jamaah dari berbagai penjuru daerah memenuhi lokasi dan antusias mengikuti pengajian Gus Iqdam.
Pendiri Majelis Sabilu Taubah Blitar itu menghibur seluruh jamaah yang hadir.
Seperti biasanya, Gus Iqdam menyampaikan pesan mendalam tentang hidup bahagia dunia dan akherat diselingi guyonan.
Gus Iqdam juga membuka ruang dialog dengan para jamaah. Tak jarang, dialog itu justru menghibur seluruh jamaah yang hadir.
Salah satunya, saat memberikan kesempatan kepada seorang jamaah bernama Alfiyah, warga Desa Semen, Kuntoronadi, Magetan dari Ponpes Ar Rahman.
Alfiyah memperkenalkan diri sebagai janda yang bekerja sebagai pesuruh sekolah.
''Janda Gus,'' kata Alfiyah yang diikuti gemuruh tawa para jamaah.
''Bojone ten pundi (suaminya di mana)?'' timpal Gus Iqdam.
''Menikah lagi Gus,'' jawab Alfiyah.
Gus Iqdam pun tak kalah kaget dengan pengakuan Alfiyah, yang juga mengundang gemuruh tawa para jamaah.
''Anaknya berapa?'' tanya Gus Iqdam lagi.
''Satu Gus, sekarang semester lima,'' jawab Alfiyah.
''Tepuk tangan untuk Bu Alfiyah. Itu anak dengan suami yang dulu?'' tanya Gus Iqdam yang juga mengundang penasaran para jamaah.
''Dengan suami yang kedua Gus,'' ujar Alfiyah.
''Lho, rabi ping piro (menikah berapa kali)?'' tanya Gus Iqdam.
''Rabi (menikah) empat kali Gus,'' jawab Alfiyah mantab.
''Beyuh,'' seloroh Gus Iqdam diikuti gemuruh tawa para jamaah.
''Digenepi ping limo ben ganjil (digenapkan menikah lima kali biar ganjil),'' imbuh Gus Iqdam.
''Pengen rabi kelima, dengan Gus ya,'' tambah Alfiyah tak kalah disambut gemuruh dari para jamaah.
Ternyata, sehari-harinya Alfiyah mengurusi dua orang stres. Satu orang stres yang dirawat pulang dari Hongkong, dan satunya stres karena dicerai.
Kemudian Gus Iqdam memberikan sodakoh kepada Alfiyah Rp 1 juta untuk membantu merawat orang stres tersebut.
''Gus ganteng, tambah rejekinya, panjang umur, munggah haji,'' ucap Alfiyah.
''Aku cinta padamu, aku ingin melamarmu Gus,'' imbuh Alfiyah
''Aku ngipi opo iki (mimpi apa ini),'' ungkap Gus Iqdam, seluruh jamaah bergemuruh.
Setelah berdialog dengan Alfiyah, Gus Iqdam menyampaikan pesan penting.
''Urip ora oleh sambat, bor (hidup tidak boleh mengeluh),'' pesan Gus Iqdam. (kid)
Editor : Nur Wachid