Spesies Penguin Baru Akhirnya Ditemukan di Pulau Terpencil Setelah 100 Tahun

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Selasa, 22 September 2026 | 21:18 WIB
Spesies baru penguin (Shutterstock)
Spesies baru penguin (Shutterstock)

Jawa Pos Radar Lawu - Selama lebih dari satu abad, tidak ada spesies penguin baru yang secara resmi dinamai. Kini, penantian itu berakhir dari tempat yang cukup terpencil: Kepulauan Kerguelen di wilayah sub-Antarktika. Dari pulau yang hampir 3.200 kilometer dari daratan berpenghuni itu, ilmuwan menemukan bahwa penguin gentoo yang selama ini dianggap satu kelompok ternyata menyimpan keragaman yang jauh lebih besar.

Penelitian terbaru mengungkap empat spesies penguin gentoo yang berbeda, termasuk satu spesies yang sebelumnya sama sekali belum dikenali secara resmi. Spesies baru tersebut diberi nama ilmiah Pygoscelis kerguelensis dan hidup di Kepulauan Kerguelen. Temuan ini menjadi penemuan spesies penguin baru pertama yang dinamai dalam lebih dari 100 tahun.

DNA Membongkar Identitas Penguin Gentoo

Selama bertahun-tahun, jumlah spesies penguin gentoo menjadi bahan perdebatan di kalangan ilmuwan. Sebagian penelitian sebelumnya bahkan mengusulkan hingga enam subspesies, tetapi belum ada kesepakatan mengenai klasifikasi yang tepat.

Kali ini, para peneliti menggunakan pendekatan genomik dengan cakupan yang jauh lebih luas. Mereka menganalisis 64 penguin dari 10 koloni perkembangbiakan yang mencakup hampir seluruh wilayah persebaran penguin gentoo.

Hasilnya menunjukkan bahwa kelompok yang sebelumnya dianggap sebagai satu spesies ternyata terdiri dari empat spesies berbeda.

Salah satunya adalah Pygoscelis kerguelensis, penguin gentoo dari wilayah tenggara. Secara fisik, penampilannya hampir tidak berbeda dari gentoo lainnya. Perbedaan yang terlihat hanya relatif kecil, seperti ukuran tubuh dan karakter suara.

Namun, DNA memberikan petunjuk yang jauh lebih jelas.

Para ilmuwan menemukan perbedaan genetik yang cukup besar untuk memisahkan kelompok-kelompok tersebut sebagai spesies tersendiri. Jenis seperti ini disebut cryptic species, yakni organisme yang secara kasatmata sangat mirip dengan kerabat dekatnya, tetapi sebenarnya memiliki perbedaan genetik yang signifikan.

"There's probably no species of penguin where the taxonomy has been more debated than the gentoo penguin," said Bowie, a curator in UC Berkeley's Museum of Vertebrate Zoology. "For over 100 years it's been controversial as to how many species or how many subspecies there are. What this paper does is try to address that question using cutting-edge integrative approaches."

Baca Juga: Lemur dari Madagaskar Punya Cara Unik Memperkeras Suaranya, Mirip Soprano

Empat Spesies Gentoo Punya Wilayah Berbeda

Penelitian tersebut membagi penguin gentoo menjadi empat kelompok utama. Masing-masing menempati wilayah yang berbeda di belahan bumi selatan.

•Pygoscelis taeniata: ditemukan di Kepulauan Crozet, Marion, dan Macquarie.

•Pygoscelis papua: hidup di Kepulauan Falkland/Malvinas dan Kepulauan Martillo di Amerika Selatan.

•Pygoscelis kerguelensis: spesies baru dari Kepulauan Kerguelen dan kemungkinan juga Pulau Heard.

•Pygoscelis ellsworthi: merupakan kelompok paling banyak dan hidup di Semenanjung Antarktika, pesisir Antarktika, serta Pulau Georgia Selatan.

Para peneliti memperkirakan keempat spesies tersebut mulai terpisah secara evolusi sekitar 300.000 hingga 500.000 tahun lalu.

Isolasi geografis menjadi salah satu faktor penting. Selain jarak antarpulau, keberadaan Antarctic Polar Front—batas besar di Samudra Selatan yang memiliki perubahan suhu dan kadar garam air secara tajam—juga dapat membatasi perpindahan hewan laut.

Pola Makan Justru Membantu Penguin Beradaptasi

Ada hal menarik lain dari evolusi penguin gentoo. Spesies ini dikenal cukup fleksibel dalam mencari makanan.

Berbeda dengan beberapa jenis penguin yang sangat bergantung pada jenis mangsa tertentu, gentoo dapat memakan berbagai hewan laut, mulai dari ikan, krill, cumi-cumi hingga sotong.

Kemampuan tersebut memungkinkan mereka mencari makanan tanpa harus menjauh terlalu jauh dari lokasi koloni.

Kebiasaan kembali ke tempat bersarang yang sama setiap tahun juga membuat populasi di pulau-pulau terpencil semakin terisolasi. Dalam waktu yang sangat panjang, masing-masing kelompok kemudian beradaptasi terhadap lingkungan lokalnya.

Perbedaan tersebut akhirnya tercermin dalam genom mereka.

Peneliti menemukan bahwa tiap kelompok memiliki karakter genetik yang berkaitan dengan kondisi lingkungan tempat mereka hidup. Gentoo yang tinggal di Antarktika, misalnya, memiliki lebih banyak perubahan genetik yang berhubungan dengan produksi panas tubuh, penyimpanan lemak dan lipid, serta kemampuan merespons cahaya.

Sementara itu, gentoo dari wilayah timur memiliki lebih banyak gen yang berkaitan dengan metabolisme karbohidrat dan kemampuan menyelam.

Spesies Baru Justru Menghadapi Ancaman

Penemuan spesies baru ini datang bersamaan dengan kabar yang kurang menggembirakan.

Para ilmuwan menggunakan model iklim untuk memperkirakan kondisi habitat penguin gentoo pada 2050. Hasilnya menunjukkan bahwa beberapa spesies yang tinggal di pulau-pulau sub-Antarktika berpotensi kehilangan habitat yang sesuai akibat perubahan iklim.

Dalam skenario perubahan iklim moderat, sejumlah populasi bahkan diperkirakan kehilangan habitat yang saat ini mereka tempati. Masalahnya, pulau-pulau tersebut sangat terisolasi sehingga belum tentu tersedia lokasi baru yang cocok di dekatnya.

"It's very important that conservation institutions in all the different countries involved recognize and take appropriate action to save these three gentoo penguin species," she added.

Kondisinya berbeda untuk gentoo yang hidup di Antarktika. Wilayah habitat yang sesuai bagi spesies tersebut justru diperkirakan dapat meluas seiring perubahan kondisi lingkungan.

Namun, perubahan iklim tetap membawa dampak bagi spesies penguin lain. Berkurangnya es laut dan perubahan populasi krill dapat memberikan tekanan terhadap penguin kaisar, Adélie, dan chinstrap.

Baca Juga: Bukan Sekadar Bau, Urine Kucing Ternyata Menyimpan “Kartu Identitas”

Bukan Hanya Perubahan Iklim

Ancaman terhadap penguin tidak berhenti pada pemanasan laut.

Para peneliti juga mencatat sejumlah tekanan lain, termasuk kerusakan habitat, predator seperti tikus dan anjing, persaingan dengan perikanan komersial, serta risiko penguin tertangkap secara tidak sengaja dalam jaring ikan.

Spesies yang hidup di pulau terpencil menjadi sangat rentan karena pilihan untuk berpindah ke wilayah baru sangat terbatas.

"In terms of climate change, island species that have really low population sizes could be compared with the sub-Antarctic gentoo penguins," she said. "Galapagos and other island penguin species, because they're endemic to these islands, will find no place to go after a change in their environment. Those islands are very isolated, and these penguins cannot adapt easily to colonize any other region."

Genom Bisa Membantu Upaya Konservasi

Selain memperjelas hubungan evolusi penguin gentoo, penelitian ini juga menunjukkan bagaimana analisis genom dapat digunakan untuk memahami kemampuan adaptasi setiap populasi.

Peneliti kini dapat melihat perubahan genetik yang mungkin berkaitan dengan kemampuan suatu kelompok bertahan di lingkungan tertentu. Data tersebut berpotensi membantu menentukan populasi mana yang membutuhkan perhatian konservasi lebih besar.

Salah satu peneliti bahkan tengah mempelajari genom penguin untuk mencari perbedaan genetik yang berkaitan dengan ketahanan terhadap flu burung. Penyakit tersebut saat ini telah memengaruhi berbagai populasi burung, penguin, dan mamalia di sejumlah wilayah.

"Whole genome sequencing has transformed our ability to not only look at adaptation from a perspective of how things diversify, but it has really important conservation value," Bowie said.

Penemuan Pygoscelis kerguelensis akhirnya bukan hanya menambah satu nama baru dalam daftar penguin dunia. Temuan ini juga memperlihatkan bahwa wilayah terpencil masih menyimpan keragaman kehidupan yang belum sepenuhnya dipahami manusia.

Di sisi lain, penemuan tersebut menjadi pengingat bahwa mengenali suatu spesies hanyalah langkah awal. Bagi penguin yang hidup di pulau-pulau terisolasi, perubahan lingkungan dapat terjadi jauh lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk mencari tempat tinggal baru.

(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Science Daily
hewan langka fakta hewan spesies baru penguin perubahan iklim