Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Dari Selokan Asrama ke Sorotan Nasional: Misteri Kematian Zara Qairina yang Penuh Misteri!

Winarsih • Kamis, 14 Agustus 2025 | 19:18 WIB
Dari Duka Keluarga Menuju Tuntutan Keadilan.
Dari Duka Keluarga Menuju Tuntutan Keadilan.

Jawa Pos Radar Lawu – Kematian tragis Zara Qairina binti Mahathir, siswi berusia 13 tahun di SMKA Tun Datu Mustapha, Papar, Sabah, bukan hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga memicu gelombang tuntutan akan transparansi dan keadilan. 

Kasus ini, yang awalnya dianggap sebagai insiden jatuh dari lantai tiga asrama, kini berubah menjadi isu nasional yang penuh tanda tanya.

Kronologi Meninggalnya Zara Qairina

Pada dini hari 16 Juli 2025, suasana asrama SMKA Tun Datu Mustapha yang biasanya tenang berubah mencekam. 

Zara ditemukan tidak sadarkan diri di dekat selokan, hanya beberapa meter dari bangunan asrama. Dugaan awal menyebutkan ia jatuh dari lantai tiga. 

Meski langsung dilarikan ke Hospital Queen Elizabeth I di Kota Kinabalu, kondisinya yang kritis membuat nyawanya tak tertolong.

Sehari kemudian, 17 Juli 2025, Zara menghembuskan napas terakhir.

Tanpa proses otopsi, jenazah dimakamkan keesokan harinya di Kampung Kalamauh Mesapol, Sipitang. 

Keputusan untuk tidak melakukan otopsi inilah yang kemudian menjadi salah satu titik awal protes keluarga.

Keraguan dari Sang Ibu

Ibu Zara, Noraidah Lamat, mengaku hatinya langsung diliputi keganjilan. 

Saat memandikan jenazah anaknya, ia menemukan memar di punggung sesuatu yang tidak pernah dilaporkan pihak rumah sakit maupun sekolah. 

Noraidah juga mengungkap bahwa sebelum kejadian, Zara sempat menelepon dan mengungkap rasa takut terhadap seorang kakak kelas yang ia panggil “Kak M.”

Bagi Noraidah, semua tanda ini menunjukkan bahwa kematian putrinya tidak bisa begitu saja disimpulkan sebagai kecelakaan. 

Ia menilai ada kemungkinan besar terjadi bullying atau kekerasan yang mengarah pada insiden tragis tersebut.

Hinga pada 30 Juli 2025, Noraidah resmi mengajukan permintaan ekshumasi atau pembongkaran makam untuk dilakukan otopsi.

Tujuannya jelas: mencari kebenaran melalui pemeriksaan forensik yang independen.

Tuntutan ini disertai tuduhan bahwa pihak sekolah tidak memberikan laporan penuh, bahkan diduga berusaha menghalangi pelaporan resmi. 

Publik pun mulai ramai berspekulasi, apalagi setelah beredar rekaman audio berdurasi 44 detik yang memperdengarkan suara Zara menyatakan ketakutannya terhadap kakak kelas.

Akhirnya warganet dan aktivis mulai menyerukan investigasi menyeluruh, dengan tagar-tagar dukungan membanjiri media sosial. 

Banyak pihak khawatir kasus ini akan ditutup atau disederhanakan, mengingat adanya rumor keterlibatan individu berpengaruh.

Namun, ternyata mendapat dukungan dari Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, yang menjanjikan penyelidikan adil dan terbuka. 

Ia menegaskan bahwa tidak ada pihak yang kebal hukum jika terbukti bersalah. (win) 

Editor : Riana M.
#ekshumasi #jenazah #ibu korban #penyebab kematian #Zara Qairina Mahathir #kematian