Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Ditolak Imigrasi, Dua Kali Ditinggal Pesawat, Jemaah Ini Akhirnya Tiba di Mekah

Indi Wardani • Jumat, 30 Mei 2025 | 16:36 WIB
Ilustrasi haji
Ilustrasi haji

Jawa Pos Radar Lawu – Tidak ada perjalanan haji tanpa ujian.

Tapi kisah satu jemaah asal Libya ini menggambarkan bahwa ketika Allah sudah menakdirkan seseorang untuk datang ke rumah-Nya, maka seberat apa pun rintangan, semua akan terlewati.

Kisah penuh air mata ini datang dari Al Mahdi Mansour Al Gaddafi, seorang jemaah haji reguler yang harus menghadapi ujian demi ujian dalam perjalanannya menuju Tanah Suci.

Awal yang Tidak Mulus: Ditolak Imigrasi di Bandara

Segalanya sudah siap dokumen, tiket, persiapan fisik, dan mental. Namun, siapa sangka cobaan datang begitu awal.

Saat hendak terbang dari Bandara Internasional Sebha Libya Al Mahdi justru ditolak oleh pihak imigrasi.

Ada kesalahan administrasi teknis dalam sistem yang membuatnya tak bisa lolos pemeriksaan.

Di saat rombongan lain sudah masuk ruang tunggu, ia harus kembali menunggu dengan ketidakpastian.

Penolakan itu menjadi tamparan hebat, terlebih karena haji adalah momen yang sudah ia tunggu bertahun-tahun.

Tapi ia memilih bersabar. Takdir Allah, pikirnya, selalu lebih baik dari rencana manusia.

Ujian Bertubi-tubi: Dua Kali Ditinggal Pesawat

Masalah tak berhenti di sana. Setelah urusan imigrasi beres, Al Mahdi kembali dijadwalkan terbang bersama rombongan susulan.

Namun cobaan kembali datang dua kali ia tertinggal pesawat.

Pertama karena keterlambatan jadwal konfirmasi keberangkatan. Kedua karena perubahan teknis mendadak dari pihak maskapai.

Waktu terus berjalan, sementara gelombang jemaah haji sudah mulai berangkat ke Arab Saudi. Hatinya mulai goyah, namun lisannya terus melafalkan doa.

“Saya sudah pasrah. Kalau ini memang bukan waktunya, saya ikhlas,” ujar Al Mahdi dalam wawancara singkat usai ia berhasil berangkat.

Titik Balik: Keajaiban yang Menggetarkan Hati

Di saat semua tampak buntu, akhirnya secercah harapan muncul.

Al Mahdi mendapat kepastian bahwa dirinya akan diberangkatkan lewat gelombang penerbangan khusus yang diatur oleh Kementerian Agama.

Tak menunggu lama, ia pun akhirnya menginjakkan kaki di Tanah Suci Mekah, bergabung dengan jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia.

Air mata bahagia pun tak tertahan. Dalam setiap sujudnya di Masjidil Haram, ia berucap syukur berkali-kali.

“Saya benar-benar merasa ini bukan perjalanan biasa. Ini adalah perjalanan iman yang penuh pelajaran hidup,” katanya.

Refleksi Iman: Ketika Allah yang Memanggil, Tidak Ada yang Bisa Menghalangi

Perjalanan Al Mahdi menjadi pengingat bahwa haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati dan keyakinan.

Ditolak imigrasi, dua kali ditinggal pesawat, namun ia tetap sampai ke Baitullah.

Sebuah bukti nyata bahwa jika Allah sudah menghendaki, maka semua yang tampak mustahil akan menjadi mungkin.

Kisah ini juga menegaskan pentingnya sabar dan tawakal dalam menjalani ibadah.

Tidak semua jemaah bisa berangkat dengan mudah.

Tapi bukan kemudahan yang menjadi ukuran diterimanya ibadah melainkan keikhlasan dan ketundukan hati kepada kehendak Allah.

Dalam setiap musim haji, selalu ada kisah luar biasa yang menggugah jiwa.

Kisah Al Mahdi adalah satu di antaranya kisah tentang tekad, ketulusan, dan campur tangan Tuhan dalam bentuk yang paling nyata.

Sebuah kisah yang tak hanya menyentuh, tapi juga menguatkan keyakinan: bahwa ketika Allah memanggil, tak ada kekuatan di dunia yang bisa menghalangi langkah seorang hamba. (*)

Editor : Riana M.
#haji #imigrasi #libya #mekah #Ditolak