Jawa Pos Radar Lawu — Konflik antara manajemen dan karyawan PT Maruwa Indonesia di Tanjunguncang, Batam, semakin memanas.
Tidak kunjung mendapat kejelasan soal gaji dan pesangon yang belum dibayarkan sejak perusahaan menghentikan operasional pada awal April 2025, para pekerja mengambil langkah tak biasa: mereka melakukan siaran langsung melalui TikTok dan viral.
Live TikTok yang dilakukan oleh akun @wulandr pada Kamis (23/5) memperlihatkan puluhan karyawan berkumpul di depan pabrik sambil menuntut hak-hak mereka.
Dalam waktu singkat, siaran langsung tersebut ditonton lebih dari 12 ribu orang, menjadikannya sorotan besar di media sosial dan menuai simpati luas dari publik.
“Kami hanya ingin hak kami dibayar! Sudah berminggu-minggu kami menunggu kepastian,” ucap salah satu pekerja dalam siaran tersebut.
Dari Gerbang Pabrik ke Layar TikTok: Tuntutan Mencuat
Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa biasa. Dengan memanfaatkan kekuatan media sosial, para karyawan berupaya menekan manajemen sekaligus membuka mata publik dan pemerintah atas ketidakpastian yang mereka alami.
Perusahaan yang bergerak di bidang produksi Flexible Printed Circuit (FPC) ini diketahui menghentikan kegiatan produksi akibat masalah pasokan bahan baku dari Malaysia.
Namun, yang menjadi masalah adalah tidak adanya pengumuman resmi dan kejelasan status para pekerja.
Sebanyak 205 orang terdampak, termasuk 49 karyawan tetap dan 156 kontrak. Mereka mengaku belum menerima gaji bulan April serta kejelasan mengenai hak pesangon mereka.
Tawaran Pesangon Minim, Mediasi Gagal
Hingga saat ini, pihak manajemen hanya menawarkan pesangon sebesar 0,5 kali masa kerja (0,5N), angka yang jauh dari standar sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Ketenagakerjaan.
Tawaran ini ditolak oleh karyawan dalam mediasi yang juga melibatkan Dinas Ketenagakerjaan Kota Batam dan Polsek Batuaji.
Kekecewaan inilah yang memicu munculnya aksi TikTok sebagai bentuk perlawanan baru. Dalam video yang diunggah, terlihat pula suasana gerbang pabrik yang dijaga ketat, spanduk protes, dan pekerja yang menahan emosi.
Netizen: Dukung, Sebar, dan Tekan
Respons dari warganet terhadap siaran langsung tersebut mayoritas positif.
Banyak yang mengungkapkan empati atas nasib para pekerja dan mendesak agar pemerintah turun tangan.
“Baru kali ini lihat buruh teriak langsung ke publik lewat TikTok. Salut sama keberanian mereka,” komentar salah satu pengguna.
Beberapa netizen bahkan membantu menyebarkan siaran ulang dan mengarahkan warganet lainnya untuk memberi dukungan.
Pemerintah Diminta Bertindak Tegas
Serikat pekerja dan aktivis buruh mendesak Pemerintah Kota Batam untuk memberikan perlindungan terhadap karyawan yang rentan.
Mereka mengingatkan bahwa ketidakjelasan seperti ini bisa membuka peluang eksploitasi dari perusahaan lain jika dibiarkan.
“Jangan sampai ini jadi tren buruk. Perusahaan cabut begitu saja, buruh ditinggal tanpa kompensasi. Negara harus hadir,” ujar seorang aktivis dari LSM ketenagakerjaan Batam.
Penutup
Siaran langsung TikTok yang dilakukan oleh akun @wulandr bukan hanya bentuk ekspresi protes, tapi juga simbol dari pergeseran kekuatan komunikasi buruh.
Di era digital, suara pekerja kini bisa menjangkau ribuan orang bahkan sebelum manajemen atau pemerintah sempat memberi tanggapan.
Kini, pertanyaannya: apakah pihak berwenang akan bertindak sebelum viral ini berubah menjadi krisis sosial yang lebih besar? (*)
Editor : Riana M.