MAGETAN, Jawa Pos Radar Lawu – Kabar duka menyelimuti keluarga Sheila Amelia Cristanti, mahasiswi UGM yang dilaporkan hilang sejak sebelum lebaran lalu.
Setelah dua minggu pencarian intensif, jasad Sheila ditemukan di dasar selokan kawasan tikungan Tamansari, Jalur Cemorosewu-Sarangan, Kabupaten Magetan, Sabtu (12/4).
Ia ditemukan dalam kondisi meninggal dunia tertindih sepeda motornya.
Diketahui, Sheila dilaporkan hilang kontak sejak 25 Maret 2025 saat mudik dari Jogja menuju Madiun.
Kronologi kehilangan Sheila sempat viral di media sosial, setelah keluarga, teman SMA, dan rekan kampusnya berupaya keras melacak keberadaannya.
Mereka mengandalkan pelacakan GPS dan IMEI dari ponsel Sheila serta pemeriksaan CCTV di sejumlah titik.
Dari pelacakan, Sheila terakhir terdeteksi berada di kawasan Seturan, Yogyakarta, pukul 11.00 WIB.
Ia terekam CCTV sedang keluar dari gang kos menggunakan sepeda motor Beat 2018 warna hitam tanpa plat belakang.
Ia mengenakan jaket hijau army, helm hitam Cargloss kaca doff, serta tas eiger oranye yang digendong.
Namun, sekitar pukul 15.00 WIB di hari yang sama, sinyal HP Sheila terakhir terdeteksi di kawasan Gunung Lawu.
Setelah itu, handphone non aktif, sehingga pelacakan tidak dapat dilanjutkan.
Keluarga pun berupaya keras menelusuri titik-titik terakhir sinyal. Pengecekan sempat dilakukan di Karanganyar, Klaten, dan Boyolali, namun hasilnya nihil.
Hingga pada 12 April, warga menemukan jasad perempuan muda di dasar parit jalur Cemorosewu, tepatnya di atas kawasan Lawu Green Forest (LGF), Sarangan.
Kapolsek Plaosan AKP Joko Yuhono membenarkan temuan jasad tersebut.
“Korban ditemukan dalam kondisi tertindih motornya di parit sedalam 77 sentimeter. Tidak terlihat dari jalan. Dugaan sementara korban mengalami kecelakaan tunggal,” jelasnya.
Keluarga mengenali jasad Sheila dari ciri khas seperti behel gigi, gelang hitam, serta pakaian dan barang-barang pribadi yang masih melekat.
Sheila diketahui sebagai anak semata wayang. Ia sempat aktif mengikuti perkuliahan sebelum mudik.
Kepergiannya yang tragis menyisakan duka mendalam, sekaligus menjadi pengingat bahwa jalur ekstrem seperti Cemorosewu membutuhkan kewaspadaan ekstra dari pengendara, terutama saat cuaca buruk dan jalur menanjak. (kid)
Editor : Nur Wachid