Jawa Pos Radar Lawu - Penyelidikan atas kematian mendadak Liam Payne, mantan anggota One Direction, terus mengungkap fakta baru.
Liam Payne, yang meninggal dunia pada usia 31 tahun setelah jatuh dari balkon lantai tiga sebuah hotel di Buenos Aires, Argentina, pada 16 Oktober, kini dikaitkan dengan pernyataan seorang petugas hotel bernama Braian Nahuel Paiz.
Paiz (24), yang juga menjadi salah satu dari tiga terdakwa dalam kasus ini, mengaku sempat menjalin pertemanan singkat dengan Liam Payne sebelum insiden tragis itu terjadi.
Dalam wawancaranya dengan media Daily Mail dan Telefe Noticias, Paiz membantah keterlibatannya dalam kematian musisi tersebut, termasuk tuduhan bahwa ia menyediakan obat-obatan terlarang.
Menurut keterangan Paiz, ia pertama kali bertemu Payne di restoran terkenal, Cabana Las Lilas, tempat ia bekerja.
Payne kemudian mengundangnya ke kamar hotel untuk berbincang santai dan mendengarkan musik.
"Kami berbicara tentang musik. Ia bertanya jenis musik apa yang saya suka—hip hop atau dance. Saya menjawab dance, dan kami mendengarkan beberapa lagu barunya," ungkap Paiz.
Namun, ia membantah adanya aktivitas ilegal selama pertemuan tersebut. "Saya hanya ada di sana untuk mendengarkan musik. Tidak ada obat-obatan yang saya bawa atau berikan kepadanya," tegasnya.
Paiz mengungkap bahwa Payne tampaknya sudah berada di bawah pengaruh obat-obatan sejak beberapa hari sebelum insiden terjadi.
Ia menduga ada pihak lain yang meninggalkan barang-barang mencurigakan di kamar Liam Payne sebelum ia datang.
Baca Juga: Dramatis! Australia Tahan Bahrain 2-2, Indonesia Tetap di Peringkat Tiga Grup C
"Orang yang berada di sana sebelum saya mungkin meninggalkan kotak sabun dan barang-barang lain untuk menyelundupkan obat-obatan," katanya.
Selain itu, ia mengaku diminta meninggalkan kamar oleh Payne saat ada tamu lain yang datang, namun ia tidak mengenali atau mengetahui identitas tamu tersebut.
Dalam upaya membuktikan dirinya tidak bersalah, Paiz menyatakan siap bekerja sama sepenuhnya dengan penyidik.
Ia bahkan menawarkan untuk menyerahkan barang-barang pribadinya, termasuk ponsel, guna mendukung proses penyelidikan.
"Saya ingin memberikan segalanya untuk penyelidikan. Saya tidak memiliki apa pun yang dapat membahayakan saya. Yang saya inginkan adalah keadilan ditegakkan," ujarnya kepada US Weekly.
Ia juga berharap bahwa keterangannya tentang apa yang dilihat dan dialaminya secara langsung dapat membantu mengungkap fakta sebenarnya di balik kematian Liam Payne. (davita-mg-iain/kid)
Editor : Nur Wachid