(ILUSTRASI: FREEPIK)“Untuk apa omongan orang lain dipikirkan. Respon kita yang menentukan, bukan omongan mereka.”
Oleh: Avita Diah Ayu Atalia
KALIMAT yang saya dapat dari seorang sastrawan dan penggiat literasi asal Ponorogo, Sutejo, tersebut berhasil menampar saya dan akhirnya mengantarkan saya untuk berani mengungkapkan gagasan ini. Kalimatnya memang sederhana, namun makna yang disampaikan luar biasa hinggamembuat pikiran saya pun bercabang, tentang sikap masa bodoh atau apatis terhadap hal-hal diluar kendali kita.
Apatis. Saya kira orang-orang mungkin sudah lazim dengan kata ini, yang dimana menurut KBBI merupakan sikap acuh tak acuh; tidak peduli; masa bodoh. Sementara menurut para ahli, salah satunya Solmitz, berdasarkan artikel yang diterbitkan dalam jurnal Reasons for Political Interest and Apathy Among University Students: A Qualitative Study (2012), menjelaskan apatis sebagai ketidakpedulian seseorang yang tidak memiliki minat atau perhatian terhadap hal-hal tertentu, seperti kehidupan sosial, fisik, atau emosional.
Fenomena apatis menjadi semakin umum di kalangan masyarakat saat ini karena kehidupan modern yang semakin kompleks dan penuh tekanan. Sikap ini kerap kali dicirikan seperti seseorang yang suka mengabaikan, bersikap seolah tidak membutuhkan siapapun, selalu menghindari orang-orang disekitarnya, dan sebagainya. Ya, apatis memang cenderung memiliki konteks yang negatif di perspektif orang awam, jadi wajar bila orang-orang disekitar akan merasa dongkol dengan sikap orang apatis.
Namun tahukah kamu jika menjadi seseorang yang apatis itu juga perlu? Dengan kata lain, sikap apatis juga memiliki sisi positifnya dan terkadang memang perlu kita terapkan. Tapi sebelum membahas hal tersebut mari coba renungi ilustrasi berikut. Dalam kehidupan, kita tidak bisa lepas dengan manusia yang tidak suka atau membenci kita, benar?Bahkan terkadang mereka mencaci, mengkritik tentang keburukan kita secara terang-terangan dihadapan kita, lebih mirisnya lagi jika yang disampaikan merupakan hal yang tidak benar. Lalu apa yang kita rasakan? Sakit hati, itu sudah jelas.
Maka dari contoh ilustrasitersebut kita bisa menarik satu poin penting,bahwadampak negatif dari terlalu acuh terhadap omongan orang lain, sepertikata-kata yang diucapkan secara sembarangan oleh orang lain dapat memiliki kekuatan besar untuk mengubah persepsi dan motivasi seseorang. Berita buruknya, bisa menyebabkan pihak yang dirugikan tertekan, stres bahkan depresi atau gangguan kejiwaan.
Sehingga dalam ilustrasitersebut, sikap apatis lah yang mestinya berperan disini. Apabila seseorang pada akhirnya menjadi tidak peduli dan masa bodoh terhadap lingkungan sekitar yang terus mengusiknya, demi menyelamatkan dirinya dari pengaruh dan komentar buruk tersebut, apakah kita tetap menyebutnya sebagai sebuah kesalahan? Daripada menilai atau mencibir tentang sikap apatis seseorang, cobalah untuk melihat dari lensa berbeda, seperti apa alasan mereka seperti itu? Apa yang menyebabkan mereka bersikap seperti itu?
Saya kira itu jauh lebih arif atau bijaksana. Ini bukan tentang keegoisan, sederhananya mereka saja tidak peduli dengan kata-kata menyakitkan yang mereka lontarkan tersebut lantas untuk apa kita peduli dengan omongan mereka yang hanya membuat frustasi saja?
Ada beberapa alasan lain yang mendukung mengapa apatis tidak selalu buruk, salah satunya bisa menjadi cara atau strategi untuk melindungi diri, berikut penjelasannya :
Pertama, apatis sebagai strategi adaptasi. Apatis biasanya muncul sebagai pertahanan diri terhadap tekanan kehidupan sehari-hari. Individu dapat mengalami kelelahan dan tekanan karena ketidakpastian ekonomi, perubahan lingkungan sosial, dan beban kerja yang meningkat. Untuk menjaga keseimbangan emosi dan mental, apatis muncul sebagai cara untuk membantu orang tetap stabil saat menghadapi tekanan.
Kedua, mengenali batas keterlibatan. Terlalu banyak keterlibatan emosional dalam berbagai aspek kehidupan dapat menjadi sumber kelelahan dan stres yang berlebihan.Jika seseorang memilih untuk bersikap apatis dalam situasi tertentu, mereka dapat mengalokasikan energi mereka untuk hal-hal yang benar-benar bermanfaat dalam hidup mereka, menetralisir dampak negatif dari terlalu banyak perhatian terhadap hal-hal yang mungkin tidak dapat diubah atau dikendalikan.
Ketiga, apatis sebagai pembebasan dari ekspektasi eksternal. Masyarakat seringkali menempatkan ekspektasi yang tinggi terhadap individu, baik dalam hal karier, hubungan sosial, atau pencapaian pribadi.Dengan mengambil sikap apatis, seseorang dapat melepaskan diri dari tekanan untuk selalu memenuhi harapan orang lain. Dengan melakukannya, mereka dapat menghindari tanggung jawab yang mungkin tidak sesuai dengan prinsip atau tujuan pribadi mereka.
Keempat, menjaga keseimbangan psikologis. Apatis, jika diatur dengan bijak, dapat membantu individu menjaga keseimbangan psikologis. Terlalu banyak keterlibatan emosional dapat menyebabkan kelelahan mental dan terkadang mengakibatkan burnout.Dengan menyadari keterbatasannya dan mengambil sikap apatis dalam situasi tertentu, seseorang dapat menjaga kesehatan mentalnya dan menghindari efek negatif dari stres berlebihan.
Kelima, refleksi dan pertimbangan yang lebih dalam. Apatis tidak selalu berarti ketidakpedulian atau ketidakperhatian sepenuhnya. Dalam beberapa kasus, apatis dapat mendorong individu untuk melakukan refleksi dan pertimbangan yang lebih dalam tentang nilai-nilai dan tujuan dalam hidup mereka.
Selaras dengan lima alasan diatas, ternyata ada banyak manfaat lain jika seseorang memiliki sikap apatis. Dilansir dari IDN TIMES edisi (22/11/2019), 5 Manfaat Jika Kamu Memiliki Sifat Apatis, Gak Rugi Kok, oleh Ahmad Rifai Yusuf, berikut manfaat bila seseorang memiliki sikap atau sifat apatis: (i) tidak terpuruk oleh kritikan orang lain; (ii) menjadi pribadi yang lebih percaya diri; (iii) membentuk pribadi yang berpendirian; (iv) membuat mental semakin kuat; (v) tidak akan menjadi pribadi yang mudah baper.
Dengan demikian, apatis jika diatur dengan bijak dalam konteks yang tepat, tidak selalu buruk. Dalam kehidupan yang penuh dengan kompleksitas dan tekanan, sikap apatis dapat menjadi alat yang berguna dalam menjaga keseimbangan mental, menghindari stres berlebihan, dan membebaskan diri dari ekspektasi eksternal yang tidak realistis.
Tentu saja, seperti halnya dengan banyak hal dalam hidup, keseimbangan dan pemahaman yang tepat tentang kapan menggunakan apatis adalah kunci untuk menjadikannya alat yang bermanfaat dalam navigasi kehidupan sehari-hari.Jadi, bagaimana, masihkah berpikir bahwa sikap apatis melulu hal buruk saja? []
BIODATA SINGKAT: Avita Diah Ayu Atalia, Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo. Saat ini penulis juga bekerja sebagai shadow teacher di salah satu sekolah swasta dan jurnalis aktif di salah satu media organisasi islam Ponorogo.
MAKLUMAT
Jawa Pos Radar Lawu menerima kiriman pembaca berupa cerpen, puisi, opini, esai dan resensi di kolom Sosial-Budaya pada portal radarlawu.jawapos.com. Naskah berupa file Microsoft Word, khusus puisi maksimal lima judul.
Adapun kiriman merupakan karya orisinal, bukan hasil plagiasi karya orang lain, serta belum pernah dipublikasikan. Karya menjadi tanggung jawab penulis. Cantumkan uraian singkat identitas diri, karya dapat dikirim melalui surel ke alamat wachidradarmadiun@gmail.com. Kunjungi juga Instagram @jawapos.radarlawu. Salam.