Mikroba Ini Punya Cara Berkembang Biak seperti Film Alien, Induknya Pecah untuk Melahirkan

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Senin, 21 September 2026 | 21:14 WIB
Makhluk mikroskopis yang berkembang biak dengan cara tak biasa (Heriot-Watt University)
Makhluk mikroskopis yang berkembang biak dengan cara tak biasa (Heriot-Watt University)

Jawa Pos Radar Lawu - Bayangkan sebuah makhluk mikroskopis yang tidak membelah menjadi dua seperti yang umum terjadi pada organisme sederhana. Di dalam tubuhnya justru tumbuh sel-sel baru. Ketika sudah siap, tubuh induknya pecah dan melepaskan generasi berikutnya.

Fenomena aneh tersebut benar-benar ditemukan ilmuwan pada mikroorganisme laut dari Skotlandia. Makhluk yang diberi nama Caledochytrium aldermaii ini memiliki pola reproduksi yang sebelumnya belum pernah ditemukan pada kelompok organisme tempatnya berada. Meski mekanismenya mengingatkan pada adegan film horor Alien, mikroba tersebut sama sekali tidak berbahaya bagi manusia.

Selain cara berkembang biaknya yang tidak biasa, mikroba ini juga menarik perhatian karena menghasilkan asam lemak omega-3, termasuk DHA, serta senyawa karotenoid yang dapat menghasilkan warna merah muda pada makanan. Sel-selnya juga mengandung sekitar 50 persen protein.

Tubuh Induk Pecah untuk Melepaskan “Anak”

Caledochytrium aldermaii termasuk kelompok mikroorganisme laut bernama Labyrinthulomycetes. Kelompok ini belum banyak dikenal masyarakat, tetapi memiliki peran penting dalam ekosistem laut dan lingkungan air asin.

Alih-alih melakukan pembelahan sel sederhana, mikroba tersebut membentuk ruang besar di dalam tubuh sel induknya. Sel-sel baru kemudian berkembang di dalam ruang tersebut.

Yang lebih mengejutkan, beberapa sel baru bahkan sudah membawa calon generasi berikutnya sebelum akhirnya dilepaskan.

Professor Peter Morris dari Heriot-Watt University menjelaskan:

“Instead of dividing into two, as we would expect, the mature cells develop a large internal chamber in which entirely new daughter cells grow.

“Some of those daughters already have another developing generation inside them, before they are released when the mother cell breaks open.

“Understanding how this species reproduces is key to understanding how it could be used in commercial settings, like aquaculture.”

Dengan demikian, proses reproduksinya berlangsung seperti sebuah rantai generasi di dalam tubuh sel. Induk membentuk sel baru, sel tersebut berkembang, kemudian tubuh induk pecah untuk melepaskannya.

Baca Juga: Bukan Dinosaurus, Hewan Purba Ini Ternyata Masih Hidup di Indonesia!

Tertangkap Kamera Mikroskop Elektron

Keunikan tersebut tidak langsung diketahui sejak awal. Para ilmuwan membutuhkan pengamatan menggunakan mikroskop elektron untuk menangkap proses reproduksinya.

Dr Jane Polglase, yang telah mempelajari mikroorganisme kelompok ini selama hampir 50 tahun, mengaku terkejut ketika akhirnya melihat proses tersebut.

“We’ve been investigating this particular group of microbes for decades, because of their products and role in the environment, but when we captured the reproduction, using an electron microscope, we couldn’t believe what we were seeing.”

Menurutnya, tim tidak hanya mengandalkan analisis DNA. Mereka juga mengamati perilaku dan bentuk fisik organisme tersebut secara langsung.

“While lots of scientists now focus on the DNA of any creature, we’ve taken an old-fashioned approach, also observing the microbe’s behaviour and describing its morphology fully.

“If we had not done that, we never would have captured this peculiar reproductive process on camera.”

Pendekatan tersebut akhirnya mengungkap perilaku biologis yang sebelumnya tidak diketahui.

Ditemukan di Berbagai Lingkungan Skotlandia

Nama Caledochytrium aldermaii memiliki kaitan langsung dengan tempat penemuannya. Nama Caledonia, sebutan Latin untuk Skotlandia, menjadi bagian dari nama genusnya.

Sementara itu, nama aldermaii diberikan untuk menghormati Dr David Alderman dari CEFAS, yang disebut berperan penting dalam mempertahankan kultur awal mikroba tersebut.

Para peneliti menemukan mikroba ini dalam beberapa kondisi lingkungan berbeda, termasuk:

•Berasosiasi dengan gurita Skotlandia dan sarangnya.

•Ditemukan bersama ikan rainbow trout.

•Hidup sendiri di kawasan rawa asin di pesisir timur Skotlandia.

Keberadaan di lingkungan yang berbeda menunjukkan bahwa mikroba tersebut dapat berperan dalam berbagai ekosistem.

Baca Juga: Cumi-Cumi dengan Tentakel Panjang Ini Terekam untuk Pertama Kalinya di Pasifik Timur Laut

“Pendaur Ulang” Alami di Laut

Meski terdengar seperti makhluk asing, C. aldermaii sebenarnya memiliki fungsi yang cukup penting bagi lingkungan.

Labyrinthulomycetes berperan dalam menguraikan sisa-sisa organisme yang mati di laut maupun lingkungan air asin. Dengan kata lain, mereka membantu mengembalikan materi organik ke dalam ekosistem.

Dr Jane Polglase mengatakan:

“The marine environment swarms with microbes about which we generally know very little.

“In this case, we have found Caledochytrium in association with Scottish octopuses and their lairs, with Rainbow Trout and on their own in the middle of a salt marsh on Scotland’s east coast.

“We now know they’re doing essential work, returning animal and plant remains to the environment.”

Perannya ternyata tidak berhenti pada penguraian.

Mikroba tersebut memiliki jaringan membran unik yang digunakan untuk bergerak, mencari makanan, sekaligus membantu mempertahankan daya apung. Ketika mikroba berpindah, jaringan membran yang ditinggalkannya dapat menjadi sumber makanan bagi organisme laut lainnya.

Larva Laut Ikut Mendapat Manfaat

Sisa jaringan membran yang ditinggalkan Caledochytrium ternyata mengandung protein dan lipid. Material tersebut kemudian menarik larva laut dan organisme pemakan lainnya.

Ketika organisme tersebut memakan material itu, protein dan lipid yang berasal dari mikroba ikut berpindah ke tingkat berikutnya dalam rantai makanan.

Polglase menjelaskan:

“Even the network of membranes, which they spin out, is left behind on any surface when they move on.

“Marine larvae are attracted to feast on these, moving the protein and lipids up the food chain when they are eaten by grazing organisms.

“Knowing how these ecosystems work is vital for keeping them healthy.”

Artinya, mikroorganisme sekecil ini ternyata memiliki posisi dalam aliran nutrisi ekosistem laut yang lebih besar.

Mengandung Omega-3 yang Bernilai Ekonomi

Selain perannya di alam, C. aldermaii juga menarik dari sisi industri.

Kelompok Labyrinthulomycetes dikenal mampu menghasilkan asam lemak omega-3 dalam jumlah tinggi, termasuk DHA. Nutrisi yang sama juga ditemukan pada ikan berlemak dan banyak dimanfaatkan dalam berbagai produk pangan dan suplemen.

Senyawa yang dihasilkan mikroba tersebut berpotensi digunakan dalam berbagai bidang, seperti:

•Suplemen makanan

•Formula bayi

•Pakan ikan

•Peternakan

•Budidaya perairan atau akuakultur

Karena selnya juga mengandung sekitar 50 persen protein, organisme ini berpotensi memiliki nilai lebih untuk penelitian pangan dan pakan.

Namun, para peneliti masih perlu memahami lebih jauh bagaimana mikroba tersebut berkembang dan menghasilkan senyawa-senyawa tersebut sebelum pemanfaatannya dapat dikembangkan secara luas.

Masih Banyak Rahasia yang Belum Terungkap

Penelitian terhadap Caledochytrium aldermaii untuk saat ini telah selesai dilakukan oleh tim Heriot-Watt dan Strameno. Para peneliti berharap kelompok ilmuwan lain melanjutkan penelitian terhadap mikroorganisme unik tersebut.

Hal ini penting karena laut masih menyimpan begitu banyak mikroorganisme yang belum dipahami secara menyeluruh.

Polglase menyoroti betapa banyaknya bentuk kehidupan yang masih dapat ditemukan meski ilmu pengetahuan terus berkembang.

“Even in 2026 we are finding forms of life with behaviours and biology we have never seen before; it’s a fascinating field of research.”

Penemuan C. aldermaii menjadi contoh bahwa kehidupan mikroskopis masih mampu memberikan kejutan. Cara reproduksinya yang tidak biasa bukan hanya memperluas pengetahuan tentang bagaimana organisme berkembang biak, tetapi juga membuka pertanyaan mengenai perannya dalam ekosistem dan potensi pemanfaatannya.

Makhluk ini memang tidak datang dari luar angkasa seperti monster dalam film Alien. Namun, cara “melahirkan” generasi baru dengan membuat tubuh induknya pecah menunjukkan bahwa dunia mikroba memiliki mekanisme biologis yang tak kalah aneh dan menarik.

(Silva Yudia Azizah, Magang Universitas Negeri Surabaya)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Heriot-Watt University
mikroba omega-3 fakta unik sains hewan laut