Jawa Pos Radar Lawu – Wacana Indonesia Emas 2045 kerap digaungkan sebagai cita-cita besar bangsa, dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai pilar utama.
Namun, pertanyaan mendasar muncul di tengah masyarakat: benarkah visi tersebut dapat terwujud jika kesejahteraan guru masih berada di posisi yang memprihatinkan?
Persoalan ini bukan semata soal angka anggaran, melainkan tentang urutan nilai yang dipilih negara.
Ketika pekerjaan teknis dalam program tertentu memperoleh penghasilan jutaan rupiah per bulan, sementara masih banyak guru honorer yang menerima upah ratusan ribu rupiah, pesan yang tersirat menjadi tajam.
Dunia pendidikan seolah tidak diperlakukan sebagai investasi utama dalam pembangunan bangsa.
Kondisi tersebut berpotensi mengirimkan sinyal keliru kepada generasi muda.
Profesi guru yang memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk cara berpikir, karakter, dan masa depan anak bangsa justru dipandang tidak menjanjikan secara ekonomi.
Secara perlahan, sistem ini berisiko menjauhkan orang-orang berkualitas dari dunia pendidikan.
Ketika kualitas pendidikan kemudian menurun, pertanyaan yang sama kembali muncul.
Mengapa daya saing sumber daya manusia Indonesia melemah? Mengapa kemampuan berpikir kritis generasi muda dinilai semakin dangkal?
Padahal, pembangunan manusia unggul selalu disebut sebagai sasaran utama menuju Indonesia Emas.
Realitas di lapangan menunjukkan masih banyak guru yang harus bergulat dengan persoalan ekonomi sehari-hari.
Beban utang, kebutuhan keluarga, dan penghasilan yang tidak mencukupi membuat fokus pengabdian mereka terpecah.
Di saat yang sama, tuntutan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa terus dibebankan di pundak para pendidik.
Ironi semakin terasa ketika negara mampu mengalokasikan anggaran besar untuk pembangunan fisik, proyek strategis, dan pengadaan alat utama sistem persenjataan.
Namun, ketika pembahasan mengarah pada peningkatan kesejahteraan guru, alasan keterbatasan anggaran dan perlunya proses bertahap kerap dikedepankan.
Padahal, seluruh kemajuan yang dicapai bangsa ini tidak terlepas dari peran guru.
Mereka yang hari ini berada di posisi strategis pemerintahan, ekonomi, dan sosial pernah ditempa di ruang kelas oleh para pendidik.
Tanpa guru, pembangunan sebesar apa pun kehilangan fondasi utamanya.
Jika kebijakan terhadap guru terus dikesampingkan, dampaknya bukan hanya pada kesejahteraan individu pendidik, tetapi juga pada kualitas pendidikan nasional secara keseluruhan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat terwujudnya generasi unggul yang menjadi prasyarat Indonesia Emas.
Indonesia yang benar-benar emas bukan semata ditentukan oleh target tahun, melainkan oleh cara negara memperlakukan pendidiknya.
Membangun gedung sekolah dan mengganti kurikulum tidak akan cukup jika para guru di dalamnya harus bertahan hidup dengan penghasilan yang tidak layak.
Oleh karena itu, pembenahan kesejahteraan guru menjadi langkah mendesak dan strategis. Guru adalah penopang utama pendidikan dan penjaga cerita masa depan bangsa.
Cara negara memperlakukan mereka hari ini akan menentukan bagaimana Indonesia dikenang oleh generasi mendatang, sebagai bangsa besar yang menghargai pendidiknya atau malah sebaliknya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani