Jawa Pos Radar Lawu - Ketegangan geopolitik global kembali meningkat setelah Rusia secara terbuka menyatakan siap melakukan uji coba senjata nuklir apabila Amerika Serikat (AS) mengambil langkah serupa.
Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran dunia akan bangkitnya kembali perlombaan senjata nuklir di tengah rapuhnya rezim pengendalian persenjataan internasional.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Ryabkov, menegaskan sikap tersebut dalam forum diskusi internasional Valdai pada Senin (22/12).
Ia menekankan bahwa Moskow tidak akan tinggal diam jika Washington memulai kembali uji coba nuklir berskala penuh.
"Jika Amerika Serikat kembali melakukan uji coba senjata nuklir secara penuh dan eksplosif, kami berhak melakukan hal yang sama," kata Ryabkov.
Bayang-Bayang Berakhirnya New START
Ryabkov juga mengungkapkan kekecewaan Rusia terhadap minimnya respons substantif dari Amerika Serikat terkait keberlanjutan pembatasan senjata strategis setelah berakhirnya Perjanjian New START.
Perjanjian ini selama bertahun-tahun menjadi pilar utama pengendalian senjata nuklir antara dua kekuatan besar dunia tersebut.
Menurutnya, hingga kini belum ada sinyal konkret dari AS untuk tetap mematuhi batasan yang telah disepakati, meski perjanjian itu mendekati masa kedaluwarsa.
Dalam situasi ini, Rusia menyatakan siap mengambil langkah-langkah strategis guna menjaga kepentingan nasionalnya.
“Menjamin keamanan nasional dengan meningkatkan keandalan dan efektivitas kemampuan penangkal serta menjaga keseimbangan strategis melalui langkah-langkah penyeimbang militer-teknis,” ujar Ryabkov.
Ia menambahkan bahwa Moskow tengah mempersiapkan diri menghadapi seluruh kemungkinan skenario pasca-New START, meskipun berharap eskalasi ekstrem dapat dihindari.
Pernyataan Trump Jadi Pemicu Kekhawatiran
Pernyataan Rusia ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump pada November lalu menyebut negaranya tidak memiliki pilihan selain kembali melakukan uji coba nuklir jika negara lain melakukannya terlebih dahulu.
"Kami akan melakukan uji coba nuklir seperti yang dilakukan negara lain. Kami memiliki lebih banyak senjata nuklir dibanding negara mana pun dan kami harus mengujinya," kata Trump.
Ucapan tersebut langsung memicu reaksi keras dari Moskow. Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa negaranya akan mengambil langkah balasan jika uji coba nuklir kembali dilakukan oleh negara lain.
Situasi ini menandai fase baru ketidakpastian global, di mana dialog pengendalian senjata kian melemah dan risiko eskalasi strategis semakin nyata. Dunia kini menanti, apakah diplomasi masih mampu meredam konflik atau justru membuka kembali bab gelap perlombaan nuklir. (fin)
Editor : AA Arsyadani