Jawa Pos Radar Lawu - Banjir bandang yang menerjang Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menyisakan satu kisah paling menggetarkan hati ketika seorang bayi bernama Fathan ditemukan masih hidup setelah tersangkut pohon di tengah derasnya arus galodo.
Bayi berusia tiga bulan itu selamat meski seluruh anggota keluarganya tewas terseret banjir.
Ia ditemukan keesokan paginya dalam kondisi tubuh penuh lumpur, namun masih bernapas lemah saat warga melakukan penyisiran.
Penemuan Fathan disebut sebagai sebuah “keajaiban” di tengah bencana yang menelan banyak korban jiwa dan menghancurkan pemukiman warga di daerah tersebut.
Banjir bandang atau galodo yang menerjang wilayah Nagari Salareh Aia Timur, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada Kamis petang, 27 November 2025, menyisakan satu kisah paling menggemparkan ketika seorang bayi bernama Fathan ditemukan masih hidup setelah tersangkut di sebuah pohon.
Bayi berusia sekitar tiga bulan itu menjadi satu-satunya anggota keluarganya yang selamat dari terjangan arus besar yang menghancurkan rumah warga dan menyapu puluhan pemukiman di tepi sungai.
Fathan ditemukan pada Jumat pagi, 28 November 2025, oleh seorang warga bernama Maulana Rafi, yang saat itu tengah melakukan penyisiran lanjutan setelah pencarian malam sebelumnya dihentikan akibat gelap dan lumpur tebal yang menutup akses.
Saat ditemukan, tubuh Fathan separuh terkubur lumpur dan tersangkut pada batang pohon besar di tengah aliran banjir.
Kondisinya sempat tampak kaku dan tidak menangis, sehingga pencari awalnya mengira bayi tersebut sudah tidak bernyawa.
Namun setelah dibersihkan dan dibawa ke posko pengungsian, napasnya ternyata masih ada.
Warga segera memandikannya, mengganti pakaiannya, memberikan kehangatan, serta menyusuinya secara bergantian hingga kondisinya berangsur stabil.
Baca Juga: 4 Destinasi Wisata Keluarga Paling Hits di Blora, Nomor 2 Lagi Viral Banget!
Peristiwa ini kemudian menjadi sorotan nasional karena dianggap sebagai sebuah keajaiban di tengah bencana besar yang menewaskan banyak warga.
Tragisnya, seluruh keluarga inti Fathan termasuk ayah, ibu, kakak, serta beberapa kerabat yang tinggal serumah dilaporkan meninggal dunia atau hilang terseret arus banjir bandang tersebut.
Rumah mereka, bersama puluhan rumah lainnya yang berada dekat aliran sungai, rata dengan tanah setelah dihantam material lumpur, kayu besar, dan bebatuan dari hulu.
Pemerintah daerah dan tim SAR melaporkan bahwa jumlah korban meninggal akibat galodo di Agam terus bertambah, sementara ratusan warga lainnya masih mengungsi akibat rusaknya infrastruktur dan jaringan pemukiman di kawasan tersebut.
Setelah diselamatkan, Fathan langsung mendapat perawatan intensif dari tim medis gabungan, termasuk Biddokkes.
Sementara itu, kebutuhan pokok seperti susu bayi, popok, pakaian hangat, dan selimut disuplai oleh warga, relawan, serta aparat yang bertugas di lokasi bencana.
Kisah Fathan yang selamat karena tersangkut pohon di tengah derasnya arus menjadi simbol harapan bagi para penyintas dan menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana di daerah rawan banjir bandang.
Dalam kepedihan yang menyelimuti Agam, kehadiran Fathan menjadi satu titik terang yang menguatkan warga untuk kembali bangkit. (ghiska-mg-pnm/kid)
Editor : Nur Wachid