Jawa Pos Radar Lawu - Suasana duka masih menyelimuti Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Meski operasi pencarian korban tanah longsor telah resmi dihentikan pada Selasa (25/11/2025), sebanyak 11 warga masih belum ditemukan.
Keputusan penghentian pencarian oleh tim SAR gabungan menjadi pukulan berat bagi keluarga korban yang masih menanti keajaiban di tengah reruntuhan tanah dan puing-puing rumah yang tertimbun.
Bencana longsor yang terjadi pada Minggu (16/11/2025) lalu, sekitar pukul 15.45 WIB, telah menimbun puluhan rumah warga.
Material longsor yang berasal dari perbukitan di sekitar permukiman meluncur deras setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama beberapa hari berturut-turut.
Dalam hitungan menit, rumah-rumah yang berada di lereng dan kaki bukit lenyap tertelan tanah. Warga yang tidak sempat menyelamatkan diri menjadi korban, sementara ratusan lainnya mengungsi ke lokasi aman.
Selama sepuluh hari, tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, relawan, dan masyarakat setempat bekerja tanpa lelah.
Mereka menyisir area longsor dengan alat berat dan peralatan manual, berharap menemukan korban yang masih tertimbun.
Namun, kondisi medan yang berat, cuaca yang tidak menentu, serta risiko longsor susulan menjadi tantangan besar dalam proses evakuasi.
Keputusan untuk menghentikan pencarian diambil setelah mempertimbangkan keselamatan tim di lapangan serta hasil pencarian yang tidak menunjukkan perkembangan signifikan.
Lokasi korban yang diduga berada di kedalaman tanah yang sulit dijangkau menjadi alasan utama penghentian operasi.
Meski demikian, pihak berwenang menyatakan bahwa pemantauan tetap dilakukan, dan jika ditemukan tanda-tanda baru, pencarian dapat dibuka kembali.
Dampak dari bencana ini tidak hanya dirasakan oleh keluarga korban yang belum ditemukan, tetapi juga oleh seluruh warga Dusun Situkung.
Sebanyak 660 warga terpaksa mengungsi ke tempat penampungan sementara. Mereka kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan dalam banyak kasus, anggota keluarga tercinta.
Pemerintah daerah telah mendirikan posko darurat, menyediakan kebutuhan dasar seperti makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Namun, kebutuhan akan tempat tinggal yang layak dan dukungan psikososial masih menjadi tantangan besar.
Selain itu, bencana ini juga menyoroti pentingnya mitigasi bencana di wilayah rawan longsor. Kabupaten Banjarnegara dikenal sebagai salah satu daerah dengan tingkat kerawanan longsor tinggi di Jawa Tengah.
Kondisi geografis yang berbukit, ditambah dengan curah hujan tinggi dan aktivitas manusia yang mengganggu kestabilan lereng, menjadi kombinasi yang memicu bencana.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan dapat memperkuat sistem peringatan dini, memperbaiki tata ruang, serta memberikan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya longsor dan langkah-langkah penyelamatan diri.
Di sisi lain, solidaritas masyarakat terlihat kuat dalam menghadapi musibah ini. Banyak relawan dari luar daerah yang datang membantu proses evakuasi dan distribusi bantuan.
Lembaga sosial dan komunitas lokal juga turut menggalang dana dan logistik untuk membantu para pengungsi. Semangat gotong royong ini menjadi harapan di tengah duka yang mendalam.
Meski pencarian resmi telah dihentikan, keluarga korban tetap berharap ada keajaiban. Mereka masih setia menunggu kabar tentang orang-orang tercinta yang belum ditemukan.
Beberapa di antaranya bahkan memilih tetap tinggal di sekitar lokasi bencana, mendirikan tenda darurat, dan setiap hari memantau perkembangan dari tim relawan yang masih berjaga.
Pemerintah daerah menyatakan akan segera melakukan relokasi bagi warga terdampak ke lokasi yang lebih aman. Proses pendataan dan perencanaan pembangunan hunian sementara telah dimulai.
Namun, proses ini tentu membutuhkan waktu dan koordinasi lintas sektor. Dalam waktu dekat, bantuan logistik dan dukungan psikologis akan terus diberikan untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi.
Bencana longsor di Banjarnegara ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan terhadap bencana alam harus menjadi prioritas.
Perubahan iklim yang menyebabkan cuaca ekstrem semakin sering terjadi, menuntut kesiapan lebih dari semua pihak.
Pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha perlu bersinergi dalam membangun sistem mitigasi yang tangguh dan berkelanjutan.
Sementara itu, para ahli geologi dan kebencanaan mendorong dilakukannya kajian mendalam terhadap wilayah-wilayah rawan longsor di Banjarnegara dan sekitarnya.
Pemetaan risiko, penguatan vegetasi di lereng, serta pengawasan terhadap aktivitas pertanian dan pembangunan di daerah rawan menjadi langkah penting untuk mencegah bencana serupa terulang.
Tragedi di Dusun Situkung bukan hanya soal kehilangan nyawa dan harta benda, tetapi juga tentang bagaimana sebuah komunitas menghadapi cobaan besar dengan keteguhan hati.
Di tengah puing-puing dan tanah yang masih labil, harapan tetap menyala. Harapan bahwa mereka yang hilang akan ditemukan, harapan bahwa kehidupan akan kembali pulih, dan harapan bahwa tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi semua. (husnul-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid