Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Lebih Pintar AI atau Manusia? Para Pelopor Dunia Teknologi Ungkap Evolusi AI Terus Berlangsung Tanpa Akhir Pasti

AA Arsyadani • Rabu, 12 November 2025 | 15:35 WIB

 

 

 

Dari kiri ke kanan, ilmuwan komputer Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio, Kepala AI Meta Yann LeCun, CEO Nvidia Jensen Huang, serta ilmuwan komputer Fei-Fei Li dan Bill Dally.
Dari kiri ke kanan, ilmuwan komputer Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio, Kepala AI Meta Yann LeCun, CEO Nvidia Jensen Huang, serta ilmuwan komputer Fei-Fei Li dan Bill Dally.

Jawa Pos Radar Lawu - Dunia teknologi tengah memasuki fase baru yang menandai perubahan besar dalam sejarah kecerdasan buatan (AI).

Dalam salah satu pernyataan paling berpengaruh tahun ini, sejumlah pelopor utama AI menyampaikan pandangan terbarunya.

Tokoh seperti Jensen Huang, Yann LeCun, Geoffrey Hinton, Yoshua Bengio, dan Fei-Fei Li menilai bahwa kemampuan sistem AI modern kini telah mencapai tingkat yang setara dengan manusia di sejumlah bidang.

Pernyataan tersebut disampaikan pada acara penganugerahan Queen Elizabeth Prize for Engineering di London, sebagaimana dilaporkan Financial Times, Selasa (11/11/2025).

Kesaksian kolektif para tokoh ini kembali memanaskan diskusi global tentang seberapa dekat umat manusia dengan Artificial General Intelligence (AGI), yakni fase ketika AI mampu berpikir seluas dan sekompleks manusia.

Para ilmuwan AI menilai bahwa transisi menuju AGI bukan lagi spekulasi teoretis, tetapi proses yang sedang berlangsung melalui berbagai aplikasi teknologi di dunia nyata.

“Untuk pertama kalinya, AI menjadi kecerdasan yang melengkapi manusia. Dia mengerjakan tugas-tugas yang sebelumnya hanya dapat dilakukan oleh tenaga manusia,” ungkap Jensen Huang.

Ia menambahkan bahwa tingkat kecerdasan yang ada saat ini sudah cukup untuk diterapkan secara luas.

"Kami telah memiliki cukup kecerdasan umum untuk menerjemahkan teknologi ini menjadi berbagai aplikasi yang berguna bagi masyarakat, dan itu sudah terjadi saat ini," ujarnya.

Sementara itu, Yann LeCun mengatakan bahwa pencapaian kecerdasan setara manusia bukanlah titik tunggal.

"Ini bukan akan menjadi satu momen tertentu, karena kemampuan AI akan terus berkembang secara progresif di berbagai domain," ucapnya.

Menurutnya, evolusi kemampuan AI akan terus berlangsung tanpa akhir pasti.

Fei-Fei Li, pendiri World Labs, menambahkan perspektif berbeda.

"Sebagian kemampuan mesin telah melampaui manusia, dan sebagian lagi sudah terjadi sekarang. Berapa banyak dari kita yang bisa mengenali 22.000 objek atau menerjemahkan 100 bahasa?” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa peran manusia tetap tak tergantikan.

“Kecerdasan berbasis mesin akan melakukan banyak hal luar biasa, tetapi selalu ada ruang mendalam bagi kecerdasan manusia yang tak tergantikan di masyarakat kita,” tambahnya.

Yoshua Bengio menilai tidak ada batas konseptual yang menghalangi manusia menciptakan mesin yang mampu menandingi hampir seluruh kemampuan manusia.

“Saya tidak melihat alasan mengapa pada akhirnya kita tidak dapat membangun mesin yang bisa melakukan hampir segala hal seperti kita,” katanya.

Namun, ia meminta kewaspadaan.

“Kita harus tetap berpikir agnostik, tidak terburu-buru membuat klaim besar karena masa depan teknologi ini masih memiliki banyak arah yang mungkin terjadi,” tegasnya.

Pernyataan para pelopor ini muncul di tengah melonjaknya investasi global di sektor AI.

Istilah AGI disebut 53 persen lebih banyak dalam laporan keuangan perusahaan pada kuartal pertama 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.

Hal ini menunjukkan ekspektasi besar bahwa AI akan menjadi penggerak utama perubahan ekonomi dan sosial.

Meski begitu, perdebatan mengenai kapan AGI benar-benar akan terwujud masih berlangsung.

Beberapa peneliti memperkirakan hanya perlu dua tahun lagi, sementara lainnya menyebut tahap tersebut bisa baru dicapai dalam beberapa dekade.

Bagi dunia usaha dan pembuat kebijakan, ini merupakan sinyal penting: AI bukan lagi sekadar alat pendukung, melainkan kekuatan strategis yang akan memengaruhi cara manusia bekerja, berinovasi, dan mengambil keputusan.

Dari pusat-pusat teknologi dunia hingga ke Asia, termasuk Jakarta, gerak perubahan menuju kolaborasi manusia–mesin semakin nyata.

Era baru kecerdasan buatan bukan lagi bayangan masa depan melainkan realitas saat ini yang membuka jalan menuju superintelligence. (fin)

 

Editor : AA Arsyadani
#Kecerdasan AGI #AI 2025 #Evolusi AI #kecerdasan buatan #AGI