Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Kisah Pilu Pekerja Migran Indonesia Tergoda ‘Demam Kamboja’: Jadi Korban TPPO, Dipukul, Disetrum, hingga Meninggal Dunia

AA Arsyadani • Selasa, 16 September 2025 | 19:52 WIB

 

 

ilustrasi Pekerja Migran Indonesia
ilustrasi Pekerja Migran Indonesia

Jawa Pos Radar Lawu - Harapan hidup sejahtera di negeri orang berakhir tragis bagi banyak pekerja migran asal Indonesia di Kamboja.

Banyak dari mereka yang berangkat dengan tubuh sehat dan penuh semangat mencari penghidupan, justru pulang tinggal nama.

Ada yang kembali dalam peti mati, ada pula yang pulang dengan kondisi cacat akibat penyiksaan.

Kisah pilu ini diungkapkan oleh Miss Yuni dalam sebuah podcast bersama Arie Untung.

Ia menjelaskan, fenomena “demam Kamboja” di kalangan anak muda kian marak karena terpikat media sosial.

Tawaran kerja di negara itu tampak menggiurkan: gaji USD, fasilitas AC, uang makan, hingga tempat tinggal nyaman.

“Dalam pikiran anak muda, semua itu terlihat keren dan cepat membuat mereka bisa flexing,” ungkap Yuni.

Menurutnya, banyak pekerja migran awalnya benar-benar merasakan fasilitas mewah, seperti menginap di hotel dan dijemput mobil mewah.

Namun, beberapa pekan kemudian, kabar mereka menghilang.

“Tiba-tiba keluarga mendapat telepon untuk menebus anak-anaknya. Ada yang dipukul, disetrum, bahkan disiksa hingga meninggal dunia,” ujarnya.

Baca Juga: Kisah Pilu Nazwa Aliya: PMI Asal Sumut Meninggal di Kamboja, KP2MI dan KBRI Pastikan Pemulangan Jenazah dan Janji Bongkar Modus TPPO

Fakta di lapangan menunjukkan, perekrutan tenaga kerja kerap dilakukan dengan visa turis, tanpa MoU resmi antara Indonesia dan Kamboja.

Konjen RI pun sudah berulang kali memperingatkan agar masyarakat mewaspadai lowongan kerja palsu di media sosial.

“Iklan-iklan yang viral di TikTok atau Facebook itu benar-benar menjerat anak-anak muda kita. Mereka terbuai janji manis, padahal pekerjaan yang dijanjikan tidak jelas,” kata Yuni.

Yuni mengaku menyaksikan langsung pemulangan jenazah dari Kamboja ke Indonesia.

Bahkan, pada 2022 ia menggunakan dana pribadi untuk memulangkan korban.

“Saya merasa terpanggil. Meski mereka bukan keluarga saya, insting saya mengatakan seandainya itu saudara sendiri, tentu saya akan berbuat sesuatu. Janji saya pada diri sendiri, hasil YouTube saya akan saya gunakan membantu orang-orang yang membutuhkan,” tuturnya.

Mirisnya, beberapa orang yang pernah diselamatkan justru kembali ke Kamboja.

Alasannya beragam: konflik rumah tangga, sulit mencari pekerjaan di kampung, hingga godaan gaya hidup bebas di negeri orang.

“Ada yang bilang, meskipun disiksa, di sana mereka bisa minum-minuman keras, ada hiburan, ada perempuan, dan kerjaan pasti ada. Jadi meskipun berisiko, tetap saja mereka kembali,” bebernya.

Dari kacamata hukum, sebagian besar kasus ini masuk kategori Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Tetapi tidak semua korban diakui secara resmi.

“Ada yang dinyatakan korban, ada yang tidak. Padahal saya melihat sendiri mereka disiksa, bahkan ada yang pulang tanpa tangan, tanpa jari, atau sudah tidak bernyawa,” pungkasnya. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#demam Kamboja #TPPO Kamboja #pekerja migran Indonesia (PMI)