Jawa Pos Radar Lawu – Belakangan ini jagat maya kembali dihebohkan dengan beredarnya foto yang diklaim sebagai detik-detik eksekusi Letnan Kolonel Untung Syamsuri.
Salah satu tokoh utama dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI).
Foto yang menampilkan sosok pria berpakaian putih, dengan mata ditutup kain dan tubuh terikat pada kayu, ramai dibagikan di berbagai platform media sosial.
Bahkan, sejumlah akun turut menyebarkan potongan video yang disebut-sebut memperlihatkan momen eksekusi Untung.
Letkol Untung bukanlah nama asing dalam sejarah Indonesia. Ia merupakan Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Resimen Cakrabirawa, pasukan elite pengawal Presiden Soekarno.
Namun, namanya tercatat dalam sejarah kelam negeri ini setelah didapuk sebagai salah satu pemimpin G30S.
Usai peristiwa tersebut, Untung berhasil ditangkap di Tegal, Jawa Tengah, sekitar Oktober 1965. Ia kemudian diadili oleh Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) pada 1966, dan divonis hukuman mati.
Pelaksanaan eksekusi diketahui berlangsung pada September 1967 di Cimahi, Jawa Barat, melalui regu tembak.
Kabar mengejutkan muncul ketika kolektor sejarah Jacob Cass membagikan foto yang diklaim sebagai dokumentasi eksekusi Untung.
Ia menyebut foto tersebut berasal dari arsip luar negeri, bahkan ada yang mengaitkannya dengan koleksi internasional seperti AFP/Belga.
Foto itu menampilkan detail yang dianggap autentik, mulai dari pakaian putih yang dikenakan hingga posisi tubuh yang diikat pada kayu sebelum ditembak mati.
Namun, keaslian foto ini langsung menuai perdebatan publik.
Tidak sedikit yang meragukan kebenaran foto tersebut.
Beberapa pengamat sejarah menilai bukti visual eksekusi Untung sangat minim, sehingga publikasi mendadak ini menimbulkan pertanyaan besar.
Ada yang berpendapat foto itu memang asli dan bisa menjadi dokumen penting sejarah, namun ada pula yang curiga bahwa itu hanyalah rekayasa atau hasil rekonstruksi belaka.
Hal serupa juga berlaku pada video yang beredar di beberapa akun YouTube dan Facebook.
Hingga kini, belum ada bukti kuat bahwa rekaman tersebut benar-benar berasal dari peristiwa eksekusi Letkol Untung tahun 1967.
Kontroversi ini pun memantik diskusi luas. Sebagian masyarakat menilai, jika foto dan video itu benar adanya, maka publik memiliki hak untuk mengetahui kebenaran sejarah secara transparan.
Namun, di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa penyebaran dokumen visual yang belum terverifikasi justru berpotensi menimbulkan distorsi sejarah.
Media dan publik menuntut adanya klarifikasi resmi, baik dari lembaga arsip negara maupun kalangan akademisi, agar tidak terjadi simpang siur informasi.
Tersebarnya foto dan video eksekusi Letkol Untung menunjukkan betapa sejarah masih menyisakan banyak misteri yang memicu rasa ingin tahu publik.
Meski lebih dari lima dekade telah berlalu sejak peristiwa G30S, perdebatan seputar tokoh-tokohnya terus bergulir.
Kini, publik menunggu jawaban: apakah foto dan video yang viral ini benar-benar dokumen asli eksekusi Letkol Untung, atau sekadar potret rekayasa yang terlanjur dipercaya banyak orang?
Hal ini belum isa dipastikan secara pasti. (win)
Editor : Riana M.