Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Kisah Perjuangan Yatim Piatu Penghafal Al Quran: Hidup Serba Kekurangan, Rumah Terbakar, Kini Temukan Harapan di Sekolah Rakyat

AA Arsyadani • Sabtu, 13 September 2025 | 22:38 WIB

 

Oktavianti, yatim piatu penghafal Al Quran di Malang temukan harapan baru di Sekolah Rakyat.
Oktavianti, yatim piatu penghafal Al Quran di Malang temukan harapan baru di Sekolah Rakyat.

Jawa Pos Radar Lawu - Di balik gemerlap Kota Malang, ada kisah mengharukan seorang remaja bernama Oktavianti Riska Fitriasari.

Gadis berusia 17 tahun ini merupakan yatim piatu yang kini bersekolah di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Kota Malang, Jawa Timur.

Meski hidup dalam keterbatasan, ia tetap teguh menjaga hafalan Al Quran dan merajut mimpi besarnya.

“Dulu makan satu atau dua kali sehari. Sekarang tiga kali sehari. Di sini juga kalau habis magrib bisa ngaji dan menghafalkan Al Quran. Meskipun tidak setoran tapi tetap menghafal,” tutur Okta dalam keterangan resmi Kementerian Sosial (Kemensos), Sabtu (14/9).

Okta kehilangan ibunya saat duduk di kelas dua SMP.

Tak lama, ayahnya menyusul.

Sejak itu, ia hidup bersama nenek dan pamannya sambil ikut merawat dua adiknya yang masih kecil.

Namun, penghasilan keluarga jauh dari cukup.

Sang nenek bekerja sebagai pemulung, sementara pamannya menjadi “polisi cepek”.

Kondisi serba sulit membuat mereka kerap hanya makan sekali sehari.

Sejak SMP, Okta tak tinggal diam.

Ia bekerja serabutan, mulai dari berjualan makanan, menjaga toko baju, hingga menjajakan jus buah untuk membantu keluarga.

Cobaan semakin berat ketika pada 2024 rumahnya di Lesanpuro, Kedungkandang, ludes terbakar akibat ledakan gas elpiji.

Saat kejadian, Okta tengah berada di pondok pesantren.

Sejak itu, keluarganya harus tinggal di rumah kontrakan sembari memperbaiki rumah seadanya.

Meski begitu, Okta tetap setia dengan mushaf Al Quran. Setiap kali rindu orang tua atau selepas sholat, ia melantunkan ayat demi ayat untuk menenangkan hati.

Hingga kini, ia telah menghafalkan enam juz.

“Kalau habis magrib ngaji (Al Quran) itu dihafalkan,” ungkapnya.

Harapan baru hadir ketika Okta diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Malang.

Lingkungan sekolah membuatnya kembali bersemangat, disiplin belajar, dan aktif dalam berbagai kegiatan.

Di sanalah ia menemukan kembali mimpinya untuk menjadi guru agama.

“Di pesantren, para guru mengajarkan kitab-kitab kepada santrinya. Dari situlah muncul keinginan kuat untuk menjadi guru ngaji,” ucapnya penuh tekad.

Lebih dari sekadar cita-cita, Okta ingin melihat neneknya tersenyum lega dan terbebas dari jerat kesulitan.

“Harapan saya bisa sukses, biar nenek enggak susah lagi, biar bisa rawat adik-adik,” katanya lirih namun penuh keyakinan. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#Oktavianti Riska Fitriasari #Sekolah Rakyat #kisah inspiratif #Penghapal Alquran