Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Usia Belia, Penuh Cerita, Mati Muda: Anak Gajah Tari Kalista Ditemukan Tak Bernyawa di Taman Nasional Tesso Nilo

Riski Asari • Jumat, 12 September 2025 | 01:40 WIB
Anak gajah jinak ditemukan mati di Kawasan TNTN, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Rabu (10/9/2025)
Anak gajah jinak ditemukan mati di Kawasan TNTN, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Rabu (10/9/2025)

Jawa Pos Radar Lawu – Duka mendalam menyelimuti Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau.

Seekor anak gajah betina bernama Tari Kalista, yang dikenal sebagai adik angkat gajah Domang, ditemukan mati di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Rabu (10/9/2025).

Kabar ini menjadi pukulan berat bagi para mahout (pawang gajah) dan pengelola TNTN. Tari, yang selama ini dikenal ceria dan dekat dengan tim perawat, kini pergi meninggalkan luka mendalam bagi keluarga besar TNTN.

Kronologi Penemuan

Kepala Balai TNTN Heru Sumantri membenarkan kematian Tari. Ia menjelaskan, sang gajah ditemukan sudah tak bernyawa saat dilakukan pengecekan rutin sekitar pukul 08.00 WIB.

“Ya, pagi tadi waktu mahot mau cek ke lapangan ternyata Tari sudah mati. Padahal semalam masih terlihat baik-baik saja,” kata Heru.

Hasil pemeriksaan awal tidak ditemukan adanya luka atau tanda kekerasan. Namun, perut Tari terlihat sedikit menggembung. Untuk memastikan penyebab pasti, tim melakukan nekropsi dan mengirimkan sampel organ ke laboratorium di Bogor dan Sumatera Barat.

“Gajah ini kadang memang seperti itu, tampak sehat tapi bisa mendadak mati. Karena itu penyebab pastinya masih didalami,” jelas Heru.

Usia Belia, Penuh Cerita

Tari lahir pada 31 Agustus 2023 dari induk bernama Lisa dengan gajah liar.

Saat mati, usianya baru 2 tahun 10 hari. Selama hidupnya, Tari tumbuh di bawah kasih sayang induknya serta pendampingan para penjaga TNTN.

‘’Tari sahabat kecil yang telah menemani hari-hari kami dengan tawa dan semangatnya. Kepergian Tari begitu cepat, terlalu singkat untuk sebuah kehidupan yang begitu berharga,’’ ujar Heru dengan suara berat.

‘’Kami percaya Tari telah kembali dengan damai, menyatu dengan alam yang selama ini menjadi rumahnya. Senyum polosnya mungkin tak lagi bisa kami lihat, tetapi jejak langkahnya akan terus terpatri di tanah Tesso Nilo,’’ tambahnya.

Penyelidikan Polisi

Balai TNTN bekerja sama dengan Ditreskrimsus Polda Riau untuk menyelidiki kematian Tari.

Hingga kini, belum ditemukan indikasi racun dalam tubuh maupun feses gajah tersebut.

“Tim BTN Tesso Nilo sedang di TKP bersama Ditreskrimsus untuk melakukan penyelidikan. Sedangkan hasil pemeriksaan kasat mata dokter, tidak ditemukan adanya indikasi racun,” jelas Heru.

Kematian ke-24 dalam 10 Tahun

Kematian Tari menambah panjang daftar gajah yang mati di kawasan TNTN. Berdasarkan data BBKSDA Riau, sejak 2015 hingga kini tercatat 24 ekor gajah mati baik jinak maupun liar.

Rinciannya: 8 gajah mati pada 2015, 2 pada 2016, 2 pada 2018, 1 pada 2019, 3 pada 2020, 3 pada 2023, 2 pada 2024, dan 2 kasus pada 2025 termasuk Tari.

Kepala BBKSDA Riau Supartono menyebut, pemicu kematian gajah di TNTN sangat beragam, mulai dari keracunan, jerat pemburu, penyakit, hingga konflik dengan manusia.

“Namun sebagian besar memang akibat konflik dengan aktivitas manusia di sekitar kawasan,” katanya. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#taman nasional tesso nilo #Anak Gajah Tari #bbksda #pelalawan #gajah suamatera mati #konservasi satwa